RSS

tell the world that you`re ...

tell the world that you`re ...
a strong person. talk louder, feel deeper. yes, you can!!
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

lebih dekat dengan ayah


-->
Seorang pria yang selalu keluar rumah setiap pagi dan kemudian kembali pulang saat sang fajar sudah berada di peraduannya, dialah ayah kita. Seorang pria yang kita panggil dengan panggilan Ayah tersebut tak kenal waktu untuk bekerja demi memberikan kita hidup yang layak. Seorang pria yang begitu menyanyangi  kita anaknya lebih dari apapun. menganggap kita sebagai harta miliknya yang tak ternilai harganya. memberikan apa yang kita butuhkan, meski kadang sebelum kita memintanya. tapi sayang, jarang orang yang menyadari hal ini.
pernahkah kita melihat sosoknya dari sisi yang berbeda? coba lihat raut wajahnya yang kadang terlihat begitu galak saat marah. coba jangan lihat wajah itu, tapi lihat mata itu saat marah. lihat matanya lebih dalam. mata yang menggambarkan kekecewaan dan rasa bersalah. merasa kecewa pada kita anaknya yang tak pernah mau mendengarkan setiap nasehatnya. merasa kecewa pada kita anaknya karena tak pernah mau memperdulikan setiap kata-katanya. dan tentunya merasa bersalah. merasa bersalah karena kita yang begitu dia harapkan bisa menjadi anak yang soleh/solehah ternyata tak bisa menjadi seperti yang dia harapkan. merasa bersalah karena dia menganggap dirinya tak bisa mendidik dan mengarahkan kita pada hal-hal yang baik. tapi kita tak pernah bisa melihat hal itu.
tak jarang dia sering terlihat hanya diam. tidak mengatakan apa-apa. tidak melakukan apa-apa. tapi dia selalu memberikan dukungannya pada kita. dia selalu memberikan perhatiannya pada kita meski hal ini kadang tak terlihat. dia memang tak pernah terlihat menangis di depan anak-anaknya. bukan karena dia memang begitu super, tapi karena dia ingin terlihat kuat di depan anak-anaknya. dia tak ingin melihat anak-anaknya menjadi manusia yang lemah dan gampang putus asa terhadap tantangan dunia yang begitu keras. tapi, tahukah kita akan hal tersebut?
seorang pria yang tak rela melihat anaknya diperlakukan tidak baik. seorang pria yang tak rela ketika melihat anaknya dipermainkan. dialah orang pertama yang akan pasang badan untuk kita saat melihat kita terancam. tapi kita tidak pernah bisa melihatnya. kita hanya tahu bahwa seorang ayah adalah sosok seorang pria yang menyandang status kepala keluarga yang tugasnya hanya mencari nafkah untuk istri dan anaknya. tapi, pernahkah kita menyadari hal tersebut?
masih begitu melekat dalam benak ini saat sosok seorang pria yang kupanggil ayah ini begitu sabar mengajariku segala hal. dia yang begitu semangatnya saat mendaftarkanku masuk sekolah dasar meskipun hanya berbekal sebuah sepeda kayuh. dia yang begitu menyanyangiku, ketika itu baru saja dia pulang dari bekerja tapi aku sudah merajuk untuk mengajariku pelajaran hari itu. dengan keras dia mengajariku.hingga akhirnya dengan perlahan aku mulai bisa membaca, berhitung, dan mengerti segala hal. dia tak pernah protes saat aku memaksanya mengerjakan tugas sekolahku.
masih teringat dalam bingkai kenangan ini bahwa dia begitu sabarnya merawatku kala aku sakit. berada di sisiku saat aku membutuhkan bantuannya. membelikanku buku bacaan dan banyak makanan agar aku segera sembuh dari sakitku. dia adalah orang yang keras saat aku pertama kali melihatnya. tapi aku tersadar saat aku berada di bangku sekolah dasar. ketika itu adalah hari pembagian rapor pada wali murid. melihat nilaiku yang turun kala itu, aku pikir dia akan memarahiku sama seperti saat aku tak segera mengerti ucapannya saat mengajariku. tapi ternyata aku salah. dia memanggilku, menyuruhku duduk di pangkuannya. kemudian pelan dia mengusap rambutku dengan terus tersenyum seraya berkata, "kenapa? kok nilainya bisa turun? apa yang belum bisa kamu pahami? apa kamu nggak belajar? kenapa?" begitulah kalimatnya dengan begitu pelan dan sabar saat itu. sungguh, aku tak bisa berkata apa-apa saat itu. hanya bisa menahan air mata. bukan karena melihat nilaiku. tapi karena melihat ternyata begitu besarnya perhatian dan kasih sayangnya padaku, pada kita anaknya.
mata ini tak bisa menahan air mata. amarah ini tak bisa terbendung saat mendengar ada seseorang yang mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. mereka tak mengenalnya dengan baik. tapi mengapa mereka begitu tak menyukainya. apapun yang mereka katakan tentangnya, dia tetap saja ayahku yang begitu kuat dan hebat. tak peduli apa kata orang, dimatanya kita tetaplah anak yang selalu dia banggakan dimanapun dia berada, meski kita tak pernah mendengar langsung dari mulutnya. seorang pria yang begitu kagum dan bangga pada kita tapi tak pernah menunjukkan hal tersebut secara terang-terangan di depan kita anaknya. tapi, akankah kita bisa mengerti hal tersebut?
ayah. sosok pria sederhana yang selalu berdoa untuk keselamatan kita saat keluar rumah.sosok pria yang menangis dalam hatinya saat melihat kita anaknya di wisuda. dia begitu bangga memiliki kita. tapi, selama ini banggakah kita padanya?
ayah. dia bukanlah seorang manusia super seperti superman. dia hanyalah seseorang yang selalu berada di belakangmu saat kau akan terjatuh, dia akan menarikmu kembali ke tempatmu semula. seorang pria yang punya tanggung jawab besar terhadap  istri dan anaknya saat berada di dunia. bahkan dia masih saja harus bertanggung jawab atas segala tingkah dan laku istri dan anaknya selama hidup di akherat saat berada di akherat kelak.
sayangilah ayah kita sama seperti dia menyanyangi kita melebihi dirinya sendiri. sayangi mereka sebelum semuanya terlambat.  jangan tunggu hingga kita tak bisa mendengar setiap nasehatnya lagi. karena waktu tidak akan bisa diulang kembali. jangan biarkan dirimu termasuk dalam golongan orang yang menyadari bahwa begitu berharganya seseorang itu setelah orang tersebut menjauh, hingga pada akhirnya menghilang untuk selamanya.
terima kasih ayah, terima kasih atas segalanya. terima kasih untuk setiap nasehat, pengorbanan, dan peluhmu yang menetes selama ini demi kami putra/putrimu.

lebih dekat dengan IBU



Ibu. Siapa Ibu? Bukankah sering kita mengatakan kata tersebut. Atau, kita sering memanggil seorang perempuan yang lebih tua dengan sebutan Ibu. Oke, jika dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Ibu adalah panggilan untuk seorang perempuan yang telah melahirkan kita. Seorang perempuan yang melahirkan kita. Sekali lagi, seorang perempuan yang melahirkan kita. Seorang perempuan yang sungguh luar biasa. Kenapa???
Dia, perempuan yang kita panggil dengan sebutan Ibu itu rela meminjamkan perutnya untuk kita gunakan tidur selama 9 bulan tanpa henti. Dia rela membawa kita kemana saja dia pergi. Rela membagi makanan yang dia makan dengan kita. Memberikan segenap rasa kasih dan sayang untuk kita. Selalu berdoa agar kita bisa lahir dengan selamat dan kelak bisa menjadi orang yang berguna, hebat dan hormat pada orang tua. Membawa beban berkilo-kilo di perutnya tanpa mengeluh. Bahkan hanya rasa bahagia yang dia rasakan. Rasa khawatir karena menunggu hari kelahiran putra yang dia nanti-nantikan. Dari mulai dia membuka mata di pagi hari hingga dia menutup mata di malam hari. SUNGGUH LUAR BIASA. SEKALI LAGI, SUNGGUH LUAR BIASA.
Dia, perempuan yang kita panggil Ibu itu tidak cukup hanya mengandung kita. Dia juga harus berkutat dengan rasa sakit yang amat sangat luar biasa. Dia juga harus rela mempertaruhkan nyawanya demi kita agar dapat melihat warna dunia ini dengan selamat. Dia tak berpikir apa-apa, dia hanya memikirkan kita. Hanya kita. Menangis dan menjerit karena rasa sakit yang dia rasakan dapat seketika berubah menjadi sebuah senyum tanda rasa bahagia dan puas kala mendengar tangisan kita pertanda bahwa kita dapat melihat dunia dengan selamat. Rasa sakit yang dia rasakan berubah menjadi rasa bahagia yang tak tertandingi oleh apapun saat itu. Melihat sosok mungil yang selama sembilan bulan ini tinggal diam di perutnya bisa keluar dengan selamat adalah impian semua Ibu di dunia ini. SUNGGUH LUAR BIASA. PENGORBANAN YANG LUAR BIASA. SEKALI LAGI, AMAT SANGAT LUAR BIASA.
Saat kita masih kecil. Saat kita masih belum bisa apa-apa. Saat kita belum mampu untuk berdiri sendiri. Saat kita masih lemah. Ibu meletakkan kita di pangkuannya dengan penuh kasih. Mengajari kita segalanya. Menunjukkan senyum terbaiknya setiap saat. Menyusui kita. Dia harus makan makanan yang sehat dan bergizi agar kitapun juga terpenuhi gizi dan kebutuhannya. Dia sungguh tak kenal waktu dalam menjaga dan mendidik kita. Dia rela jika jatah tidurnya berkurang kala kita membangunkannya di tengah malam, saat dimana seseorang harus istirahat. Dia juga rela jika harus kedinginan demi meminjamkan selimutnya pada kita agar kita tidak kedinginan. Dia juga rela terjaga tiap malam kala kita sakit. Menjaga kita dari mimpi-mimpi buruk. Setia berada di samping kita dan memastikan semua baik-baik saja.
Beranjak dewasa, kita mungkin sudah sedikit menjaga jarak dengan Ibu agar tidak dipanggil anak Mama. Menyuruhnya menyiapkan segala kebutuhan kita. Membentak dan memarahinya saat apa yang kita mau tak berjalan sesuai keinginan karena Ibu. Tak terpikirkah oleh kita, pernahkah Ibu membentak dan memarahi kita saat kita mengganggu waktu istirahatnya atau kita mengotori pakaiannya dengan air kencing kita?? Tidak. Dia tidak pernah marah. Dia hanya tersenyum dengan sabar dan tulus. Saat kita masih kecil, kita seperti tak mau pisah dengannya. Ingin selau berada dalam pangkuan, pelukan, dan selalu berada di sampingnya. Tapi saat dewasa, kadang kita harus pura-pura tak mendengar saat Ibu memanggil kita. Dulu, saat masih kecil, Ibu selalu setia menemani kita bermain dan menghabiskan waktunya dengan kita. Tapi saat kita beranjak dewasa, kita lupa padanya.  Saat kita punya pacar, kita telah lupa padanya bahkan untuk sekedar menyapanya. Marah jika Ibu melarang kita berpacaran. Tidak. Ibu tidak bermaksud melukai kita, dia hanya tidak ingin hati kita tersakiti. Dia hanya merasa sedih jika melihat kita menagis dan disakiti oleh seorang laki-laki. Dia sungguh ingin yang terbaik untuk kita, untuk anaknya.
Dia, perempuan yang kita panggil Ibu itu selalu menyebutkan nama kita dalam setiap doanya. Dia selalu berharap yang terbaik untuk kita. Jika suatu saat pendapatnya tidak sama dengan apa yang kita pikirkan, dia hanya ingin yang terbaik untuk kita. Kita tidak tahu apa yang sudah dia lalui di masa lalu hingga dia melakukannya pada kita. Dia bersikap keras pada kita, karena dia tidak ingin kita salah dalam melangkah. Dia sungguh ingin masa depan kita lebih cerah darinya. Tapi kita tak pernah menyadarinya. Hanya kata, “ Ibu jahat. Ibu kuno.” Dia sakit hati. Dia menangis dalam hatinya saat kita mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaannya. Tapi dia tak pernah menunjukkan hal itu pada kita. Dia hanya menangis di atas sujud setiap shalatnya. Air mata tulus, air mata yang sangat sayang jika harus keluar karena kelakuan kita. Melihat semua yang telah Ibu berikan dan korbankan selama ini, punya hak apa kita membentaknya. Memarahinya. Menghakiminya dari sudut pandang kita saja. Lihat! Lihat apa yang sudah dia berikan padamu. Jiwa, raga, bahkan nyawapun rela dia berikan demi melihat putra/putrinya tersenyum. Punya hak apa kita bersikap sok tahu sehingga bisa semena-mena mengatakan Ibu kita tak tau apa-apa. Punya hak apa kita yang hanya seorang anak bersikap acuh dan menganggap Ibu tak menyanyangi, tak peduli, dan tak mengerti kita saat dia tak dapat memberikan apa yang kita minta atau mengabulkan apa yang kita mau. Lihat, lihat kerut wajahnya. Lihat, lihat peluh yang menetes dari tubuhnya. Lihat, lihat pakaian yang dia pakai. Lihat apa yang dia pakai. Dia rela mengalah demi melihat anaknya tampil sempurna. Lantas, punya hak apa? Punya hak apa kamu bersikap kurang ajar pada seorang Ibu!!!!
Sudahkah kita menyapa Ibu kita pagi ini. Sudahkah kita berbagi kebahagiaan dengan berbagi senyum dengan Ibu kita. Sudahkah kita mengucapkan terima kasih untuk setiap pengorbanannya untuk kita. Dan sudahkah kita menyadari bahwa begitu berartinya Ibu kita. Munafik jika kita mengatakan kita menyanyangi Ibu padahal masih ada bohong dan rasa kesal di dalam hati kita pada Ibu. Ibu bukan saja seorang perempuan biasa. Dia adalah malaikat Tuhan yang dikirim untuk menjaga kita, selalu berada di samping kita saat kita terpuruk. Saat teman, pacar, atau siapapun meninggalkan kita. Ibu kita tetap setia di samping kita dan membela kita dengan segala kebaikan dan keburukan yang kita punya. Ibu adalah suatu pekerjaan yang amat sangat mulia yang gajinya juga tentu saja amat sangat mahal. Yang tidak dapat dibeli dengan uang, tapi cinta. Cinta tulus yang kita berikan padanya. Suatu status yang sangat mulia.
Terima kasih Ibu, terima kasih untuk semua waktu yang telah kau berikan. Dari aku belum bisa apa-apa hingga kini aku bisa berdiri dan menatap dunia yang keras ini dengan semangat yang kudapat dari setiap doa dan senyum indah yang selalu kau lantunkan dan kau tunjukkan sebagai suatu harta yang luar biasa. Ibu itu ibarat rumah, kemanapun dan dengan dengan siapapun kita keluar dari rumah itu ibu tetap menjadi tempat kita kembali. Satu-satunya orang yang selalu ada untuk kita, itu Ibu. I LOVE YOU MOM, YOU ARE MY EVERYTHING. WITHOUT YOU, I CAN BE LIKE ME NOW. YOU ARE MY ANGEL. YOU ARE MY GUARDIAN ANGEL. THANK YOU MOM… J

Chairil Anwar

Chairil Anwar
Chairil Anwar.jpg
Chairil Anwar
Lahir Medan, 26 Juli 1922.
Meninggal Jakarta, 24 April 1949
Kebangsaan Flag of Indonesia.svg Indonesia
Suku bangsa Suku Minang
Angkatan Angkatan '45
Karya terkenal Krawang Bekasi


Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku [2]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.


Masa kecil

Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Indragiri Riau, berasal dari nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan dari pihak ibunya, Saleha yang berasal dari nagari Situjuh, Limapuluh Kota [1] dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. [2]

Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa Dewasa

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[3]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[4]

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir Hidup

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[5] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Buku-buku

Sampul Buku "Deru Campur Debu"

Terjemahan ke dalam bahasa asing

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:

  • "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
  • "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Karya-karya tentang Chairil Anwar

  • Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
  • Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
  • S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)
  • Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
  • Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
  • H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
  • Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
  • Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
  • Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
  • Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
  • Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)


[sunting] Referensi


mbah surip


Innalillahi, Mbah Surip Meninggal Dunia

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. Telah berpulang ke rahmatullah, Mbah Surip siang hari tanggal 4 Agustus 2009 pukul 10.30 wib. Saya baru saja mendapat kabar dari Cut Tari dan Indra Herlambang (host insert). Kronologis kematian mbah Surip belum bisa diketahui secara pasti. Tapi, tadi tim insert sudah berusaha menghubungi Mamiek (pelawak yang juga merupakan teman dekat mbah Surip). Menurut Mamiek, kemarin mbah Surip datang mengunjungi Mamiek di rumahnya. Mbah Surip mengaku bahwa dirinya sangat capek karena dikejar-kejar oleh wartawan dan fansnya. Mbah Surip ingin beristirahat di rumah Mamiek.

Saat itu Mamiek merasa ada yang aneh dengan Mbah Surip. Mamiek menganjurkan mbah Surip agar pergi ke rumah sakit. Namun mbah Surip menolak, dengan alasan tidak mau dikejar-kejar wartawan lagi. Menurut saudaranya, terakhir kali mbah surip belum sempat makan nasi, tapi sudah minum es. Itu langsung membuat mbah Surip drop dan nggak fit.

Pagi hari tadi, mbah Surip makan bubur ayam dengan anaknya. Menurut Mamiek, saat makan itu, mbah Surip mulai ngelantur. Mbah Surip berkata “i love you full” berkali-kali. Setelah sarapan, mbah Surip kembali istirahat ditemani anaknya. Saat Mamiek mandi, ada orang yang berkata :”mbah Surip.. mbah Surip.. mbah Surip awake lemes” [mbah surip.. mbah surip.. mbah surip badannya lemas].

Lalu Mamiek membawa mbah Surip ke Pusdinkes Kramat Jati Jakarta Timur. Di pusdinkes, mbah Surip dinyatakan telah tiada. Saya sempat nggak percaya dengan berita ini. Secara beberapa hari yang lalu saya masih melihat mbah Surip sehat-sehat saja di televisi.

Selamat jalan, Mbah Surip… I love you full!!

mbah surip


Copyright 2009 it`s my story.... All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates