RSS

tell the world that you`re ...

tell the world that you`re ...
a strong person. talk louder, feel deeper. yes, you can!!
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

dia...


Pertama kali melihatnya di tengah keramaian bazar, mata Boni seperti berhenti berkedip. Dan jantungnya serasa berhenti berdetak sejenak menikmati keindahan yang telah diciptakan Tuhan dengan begitu sempurnanya. Seorang cewek yang melihat ke arahnya dengan tatapan mata dingin dengan rambut sebahu yang dibiarkan terurai, membuatnya terlihat begitu cantik. Cantik alami. Lama dia menatapnya, entah apa yang dia perhatikan. Hingga pada akhirnya dia membuang pandangannya dan kemudian berjalan menjauh. Dan Bonipun tersadar bahwa kini dia telah menghilang di telan kerumunan orang yang datang malam itu.
Sudah seminggu berlalu setelah bertemu dengan cewek tersebut, tapi wajahnya masih saja bergentayangan di memori otak Boni. Berusaha buat membuang memori tersebut, tapi justru malah timbul rasa penasaran. Ingin tahu siapa dia dan kenapa dia bisa menatapnya sampai seperti itu.
"Eh, Boni... Punya kerjaan baru Lo?" Vino sahabat karib Boni yang datang mengagetkan. Membuyarkan lamunannya tentang cewek itu. Sungguh sahabat yang tidak pengertian.
"Sialan Lo! Bikin semua kacau aja. Baru juga mulai, udah ganggu aja. kampret!" umpat Boni pada Ivan yang melihatnya dengan wajah tanpa dosa. Dan itu adalah salah satu hal yang paling Boni benci dari sahabatnya tersebut.
"Yaelah, habisnya tiap hari nglamun mulu... Mikirin apa sih? Masih penasaran sama cewek yang Lo temuin di bazar seminggu yang lalu?"
"Gitulah..." jawab Boni singkat.
"Denger ya, kalo jodoh juga nggak akan kemana... Inget tuh baik-baik."
Celoteh Ivan sambil berlalu. Ivan memang anak yang urakan, tapi apa yang dia ucapkan bagaikan sebuah tetesan air di tengah panasnya padang pasir. Dari mulutnya jugalah keluar kalimat-kalimat ajaib yang entah darimana didapatkannya. Setiap apa yang dia ucapkan selalu saja tepat sasaran.
"Eh, Boni! Mau langsung pulang Lo?" tanya Ivan saat kami baru saja keluar kelas setelah menyelesaikan jam kuliah mereka.
"Kenapa?"
"Sepupu Gue dari Jawa lagi main kesini. Udah seminggu yang lalu sih datengnya... Hari ini Gue disuruh nemenin buat jalan-jalan. Ikut yuk!"
"Ngapain... Emang Gue tour guide apa? Kagak ah. Males. Mau tidur aja di rumah."
"Ayo dong! Lo yang sering kelayapan tiap hari pasti tahu tempat-tempat kece kan? Gue beliin apa yang Lo mau deh ntar... Gue kabulin apa yang Lo mau dari Gue deh... Pliisssss..."
Melihat tampang Ivan yang sudah memasang wajah melasnya, tentu aja Boni nggak tega dan akhirnya ikut saja dengannya menemui sepupunya yang datang dari Jawa itu.
"Kita ketemunya disini?" tanya Boni setelah mereka sampai di depan sebuah losmen sederhana.
"Dia nginepnya disini. Makanya nyokap sekalian nyuruh doi buat pindah ke rumah Gue. Jadi kan Lo bisa bantu-bantu angkat kopernya sekalian.Hahahaha..."
"Sialan."
Akhirnya firasat buruk Bonipun memang benar terjadi. Pasti ada satu dua hal yang tidak mengenakan. Dan ternyata hal itu memang benar terjadi. Si Ivan sialan sengaja mengajak Boni ternyata bukan hanya sekedar untuk menemaninya berkeliling namun juga membantunya mengangkat koper. Sungguh keterlaluan sahabat Boni yang satu ini.
"Mana sih sepupu Lo itu? Lama banget ditungguin. Nggak sadar apa kalo lagi ditungguin." keluh Boni pada Ivan yang tengah santainya menghisap sebatang rokok sambil duduk di kursi depan mobil dengan pintu yang dibiarkan terbuka
"Tungguin aja. Masih mandi kali. Nggak sabaran banget sih Lo!" jawabnya sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
"Tuh dia." tunjuk Ivan yang kemudian berdiri keluar mobil dan mematikan rokoknya.
Sungguh mengejutkan. Entah ini hanya suatu kebetulan saja atau mungkin ini adalah takdir, entahlah. Itulah yang dipikirkan Boni saat melihat seoorang cewek yang keluar dari pintu losmen dengan menarik sebuah koper kecil sambil tak hentinya memamerkan senyum manisnya. Sungguh sangat cantik, itulah kalimat yang terus berputar-putar di kepala Boni.
"Dia? Dia sepupu Lo?" bisik Boni pada Ivan yang tengah sibuk melambaikan tangannya dengan terus memasang senyum lebar di wajahnya yang dengan sialnya juga, Ivan hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Boni.
"Hai, Mega! Maen kesini nggak ngomong-ngomong. Untung budhe nelpon Mama buat ngasih tau kalo kamu ada di sini." Ivan basa basi.
"Maaf, Van... Jadi ngrepotin. Padahal niatnya kesini mau maen bentar sekalian nyari tempat kuliah yang bagus trus pulang. Eh Mama kamu ngasih tahu kalo suruh nginep lebih lama aja. Ya udah..." terang cewek yang dipanggil Mega oleh Ivan.
"Ehm..." gumam Boni pelan.
"Oiya, kenalin nih temen aku Boni. Dan Bon, ini adik sepupu Gue Mega yang Gue ceritain." Ivan coba memperkenalkan setelah menyadari keberadaan Boni di sampingnya.
Boni yang langsung mengulurkan tangan segera saja dijabat kembali oleh Mega dengan ramah. Lembut tangan dan manis senyumnya membuat mata Boni tak ingin beranjak menatapnya. Sungguh pesona cewek ini berhasil menghipnotis otak Boni.
Setelah memutuskan akan pergi kemana yaitu pulang terlebih dahulu ke rumah Ivan, Ivanpun dengan sigap segera melajukan mobilnya di tengah keramaian kota. Mata Boni yang kadang mencuri pandang pada Mega yang sedang duduk di kursi belakang lewat kaca spion membuat Ivan yang menyadari hal itu penasaran dan ingin tahu.
Keesokan harinya saat Mega diajak Ivan untuk melihat-lihat kampusnya, karena siapa tahu Mega berminat untuk melajutkan pendidikannya di tempat yang sama dengannya dan Boni sahabatnya menimba ilmu tersebut.
"Bukannya kita pernah ketemu, ya? Di bazar seminggu yang lalu bukan?" Mega membuka pembicaraan saat Ivan meninggalkan mereka berdua karena masih harus menyelesaikan mata kuliahnya yang lain.
"Apa?! Kamu masih inget ternyata..." Boni yang mulai salah tingkah dengan kalimat Mega langsung saja menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal tersebut.
Megapun hanya menjawabnya dengan tersenyum dan kemudian melanjutkan membaca brosur kampus yang diperoleh dari Ivan.
”Boleh nanya...” akhirnya Boni memberanikan diri memulai pembicaraan hingga membuat Mega menghentikan membaca brosur yang ada di tangannya dan menoleh pelan ke arah Boni.
”Kenapa waktu itu, pas kita ketemu di bazar... Kenapa kamu bisa ngeliatin aku sampai lama gitu...” Boni melanjutkan kalimatnya setelah mendapatkan anggukan dari Mega tanda mengizinkan Boni untuk bertanya.
”Itu... Itu karena wajah kamu ngingetin aku sama almarhum kakakku. Mirip banget. Dia baru meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan.” jelas Mega pada Boni yang terus mendengar dan mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Mega dengan penuh konsentrasi.
Mendengar penjelasan Mega, jelas membuat Boni lega. Akhirnya semua teka-teki yang menyelimuti hatinya terungkap sudah. Mulai dari siapa cewek yang dia temui di bazar seminggu yang lalu hingga kenapa dia bisa menatap Boni sampai seperti itu terjawablah sudah.
Tiga hari bersama membuat Boni semakin tak bisa mengendalikan rasa sukanya pada Mega. Mega yang manis, sangat baik, sopan, lemah-lembut khas gadis Jawa telah membuat Boni ingin segera memilikinya sebagai pendamping hidup yang selama ini dia dambakan. Sayangnya tampang keren, penampilan oke, dompet tebel, dan kepopuleran Boni tidak bisa begitu saja meruntuhkan hati Mega. Banyak cewek di kampus yang ingin menjadi pacar Boni harus rela ditolak berkali-kali hingga harus menanggung malu. Tapi kenapa pesona Boni ini seperti tidak mempan untuk Mega, cewek yang begitu disukai Boni itu.
Setelah semalaman berpikir keras, akhirnya Boni memutuskan untuk mengutarakan rasa sukanya pada Mega hari ini juga. Karena Boni takut akan terlambat. Jadi, sebelum semuanya terlambat lebih baik Boni memilih untuk melangkah terlebih dahulu. Tapi, sebelum dia berangkat bertempur tentu saja dia harus berpamitan pada sahabat satu-satunya, Ivan. Karena bagaimanapun juga mereka sudah seperti saudara sendiri.
”Hei, brother!!!” sapa Ivan saat melihat Boni berjalan ke arahnya saat itu.
”Kemana sih, dicariin susah amat. Udah kayak kutu Lo!” canda Boni sesampainya di tempat Ivan duduk.
“Kampret... Kutu... Tumben hari ini keren banget. Ada apa nih...” akhirnya Ivan menanyakan hal tersebut. Jadi Boni tidak perlu repot-repot harus memulai darimana dia akan bercerita.
”Emm... Gue udah nemuin siapa cewek yang Gue temuin di bazar. Dan Gue berencana buat nembak dia hari ini juga, bro. Gue takut telat, ntar malah berabe lagi semuanya.” Boni mulai berbicara.
“Hah?! Masih kepikiran aja sama cewek misterius itu. Trus, anak mana tuh cewek...”
”Jangan sekarang. Ntar kalo udah sah Gue kenalin dia ke Lo. Lagian Lo juga kenal kok sama tuh cewek.”
”Gue? Gue kenal tuh cewek? Siapa? Anak kampus sini juga berarti... Tapi siapa sih bro?” Ivan yang mulai penasaran terus memaksa Boni untuk menceritakan semuanya.
”Oiya, Gue juga mau ngasih tau kalo minggu depan Gue bakalan tunangan.” Ivan yang coba memberitahu kabar baik ini pada sahabatnya tentu saja membuat Boni sangat terkejut.
”Tunangan? Tunangan sama siapa? Monyet?” goda Boni pada Ivan yang terlihat berseri-seri saat mengatakan hal tersebut.
”Sialan. Ya sama cewek lah. Bentar lagi dia kesini. Ntar Lo juga tahu siapa calon tunangan Gue itu. Mukenye nggak asing kok buat Lo.” tutup Ivan yang membuat Boni semakin penasaran. Karena pasalnya, Ivan tak pernah terlihat jalan berdua dengan seorang cewek. Bahkan Ivan juga tak pernah menceritakan sosok cewek yang sedang dekat dengannya akhir-akhir ini, meskipun mereka selalu menceritakan semuanya layaknya saudara. Jelas saja perubahan Ivan ini membuat Boni takut akan hal-hal buruk yang terjadi pada diri Ivan yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri itu.
Tak lama menunggu, kemudian datanglah seorang cewek yang berjalan ke arah Boni dan Ivan duduk dengan anggun dan senyum yang terus terpasang di wajahnya. Rambut sebahu yang dibiarkan terurai terus bergerak seiring dengan langkah kakinya. Sesekali membenahi rambutnya yang terkadang menutupi wajahnya karena diterpa angin. Mega. Mega yang begitu mempesona kala itu membuat mereka berdua hanya diam mematung melihat salah satu keindahan dunia yang diciptakan Tuhan dengan begitu sempurnanya.
”Dia...” ungkap Boni dan Ivan pelan secara bersamaan. Membuat mereka saling menatap dengan muka serius.
”Van...” panggil Mega  pelan saat tiba di tempat Boni dan Ivan duduk bersama. Suara tersebut membuat tatapan mata kedua sahabat tersebut terlepas satu sama lain dan segera melihat ke arah suara tersebut. Melihat Mega yang sudah berdiri di depannya, Ivan segera berdiri di samping Mega dan merangkulnya mesra. Suatu pemandangan yang aneh di mata Boni untuk ukuran sebuah hubungan sepupu. Tapi Boni coba untuk memakluminya. Meski ada sedikit rasa cemburu dalam hatinya.
”My brother... Ini adalah cewek yang Gue ceritain tadi. Tunangan Gue. Mega.” Ivan membuka suara yang jelas membuat Boni kaget setengah mati. Bola mata Boni yang langsung melotot seperti ingin keluar dari tempatnya membuat Ivan merasa seperti telah membuat Boni terkejut setengah mati.
”Apa?!?! Mega tunangan Lo? Kalian sepupuan kan? Gue nggak ngerti. Dan kalo ini cuma jokes. Lo tau ini nggak lucu Van.” Boni akhirnya berani bersuara.
Ivan jelas terkejut dengan sikap Boni yang menurutnya sedikit berlebihan. Ivan yang memang sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Boni saat ini tentu saja dia akan berpikir demikian.
”Gua cabut dulu deh. Males Gue lama-lama disini.” Boni yang sudah tak bisa menahan amarahnya segera pergi begitu saja. Melihat sikap aneh sahabatnya tersebut, Ivan segera menyusul Boni.
”Lo kenapa sih, Bon?? Kok Lo gini.”
”Gue kayak gini?? Kayak apa menurut Lo? Sahabat yang udah Gue anggep kayak saudara sendiri nipu Gue!! Nusuk Gue dari belakang!! Anjing Lo!!! Bangsat!!! Gila ya... Bilang sepupu, trus sekarang calon tunangan?? Apaan maksudnya??? Bercanda??? Bercanda Lo keterlaluan, nyet!!! Kampret!!! Kalo bukan temen udah Gue hajar Lo.” emosi Boni yang akhirnya meledak membuat Ivan bingung harus mulai darimana.
”Sori... Gue juga baru tahu hal ini semalem. Ternyata nyokapnya Mega itu bukan kakak kandung nyokap Gue. Tapi mereka sahabatan dari dulu. Dan orang tua Mega nitipin dia ke orang tua Gue karena janji mereka pas sekolah dulu. Jadi, jangan salahin Gue!! Kalo mau salahin, salahin nyokap Gue!!! Denger Lo njing??” teriak Ivan tak kalah kerasnya.
”Hoh... Jadi sekarang Lo udah berani manggil Gue anjing??? Tai Lo!!!” umpat Boni yang sudah tak bisa menahan emosinya.
”Woi!!” teriak Ivan tak kalah kerasnya.
”Apa? Anjing Lo emang...”
”Kenapa Lo berlebihan gini sih...”
“Berlebihan?? Anjing... Lo tau, cewek yang Gue temuin di bazar? Lo tau cewek yang selama ini buat Gue nggak bisa tidur nggak enak makan? Lo tau siapa cewek yang Gue sukai itu? Dan apa Lo tau siapa cewek yang mau Gue tembak hari ini? Apa Lo tau itu?? Anjing...”
“Siapa? Siapa maksud Lo?”
“Dia!! Mega!!! Babi Lo!!! Bangsaatttt!!! Anjing Lo emang!!!” teriak Boni sambil menunjuk keras ke arah Mega yang sedari tadi sudah berdiri di depan kedua sahabat yang sedang kalap emosinya tersebut dengan perasaan tak menentu dan serba salah.
“Bon... Gue, Gue nggak tau kalo Mega yang Lo maksud... Gue...” Ivan yang mulai mengerti maksud amarah Boni tentu saja merasa sangat bersalah. Wajahnya yang terlihat ling-lung membuat Boni tersadar akan sikapnya.
“Tai... Gini bos. Gue nggak berhak sebenernya marah gini sama Lo. Gue tetep temen Lo. Dan Lo, Lo tetep jadi sahabat Gue. Sori Gue udah kasar.”
“Bon...” panggil Ivan yang membuat Boni menyadari sikapnya yang berlebihan pada Ivan sahabatnya.
“Gue mau tenangin diri Gue dulu, Van... Gue cabut dulu.”
Boni yang setelah merangkul Ivan segera berjalan menjauhi Ivan yang tengah bingung dengan apa yang sudah dia perbuat pada sahabatnya, Boni. Karena seharusnya dia bisa lebih mengontrol emosinya.
“Dia... cewek yang Gue suka ternyata adalah calon tunangan sahabat Gue sendiri. Mega.”

LOLA FACT


Aku Lola, Lola Kamarine. Aku adalah seorang mahasiswi semester 6 jurusan psikologi. Aku bukanlah orang yang urakan, tapi aku juga bukan tipe orang yang selalu menjalani hidup dengan serius. Jadi… bisa dibilang aku adalah orang yang santai tapi tetap fokus dalam menjalani apapun yang sedang kulakukan. Hidup sebagai anak kos membuatku menjadi pribadi yang mandiri dan tak suka jika harus mengandalkan orang lain. Karena itu, sampai sekarang aku berusaha keras untuk meringankan beban orang tua dengan mencari kerja sampingan. Namun hal itu selalu saja gagal. Bukan karena aku tak becus dalam bekerja, tapi ini dikarenakan aku tak bisa mengatur waktuku dengan baik. Aku tidak mengatakan aku orang yang ceroboh, hanya tidak pandai mengatur waktu.
Sebagai anak rantau, aku tidak pernah membeda-bedakan siapa yang pantas menjadi temanku dan siapa yang tidak. Dan karena hal itulah, aku punya dua orang sahabat. Mereka adalah Yogi Firmansyah dan Rio Ginanjar. Mereka adalah orang-orang yang selalu setia menemani dan berada di sampingku saat aku membutuhkan bantuan.
Yogi Firmansyah. Dia adalah mahasiswa semester 6 jurusan Management Ekonomi. Yogi adalah orang yang sopan. Di antara kami bertiga, dia adalah orang yang paling lurus jika dibandingkan denganku dan Rio. Sifatnya yang sabar dan tidak pernah marah membuatku merasa seperti punya kakak yang selalu melindungi dan mengayomi adiknya.
Rio Ginanjar. Seorang mahasiswa semester 6 jurusan kedokteran. Aneh memang jika tahu seorang Rio yang urakan dan tidak terlalu pintar bisa masuk kedokteran. Tapi itulah Rio, dia adalah malaikat keberuntungan bagi kami bertiga. Hidupnya santai, lucu, tapi dia adalah cowok yang bertanggung jawab. Tampangnya yang lumayan oke, membuatnya digilai banyak cewek di kampus. Tapi entah kenapa dia memilih untuk jomblo. Kalau dia mau, dia bisa saja menjadi seorang player kelas tongkol, tapi dia tidak mau melakukannya.
Kami mulai bersahabat sejak pertama kali daftar di universitas yang sama. Saat itu, kami bertiga sama-sama tersesat karena kebingungan mencari kantor administrasi. Dari perkenalan singkat, kamipun menjadi sering bertemu karena kos di komplek yang sama. Dari situlah kami mulai dekat dan kemudian menjadi sahabat sampai sekarang.
“ Pulang kuliah nongkrong bentar, yuk!” ajak Rio saat aku tiba di kantin setelah jam pelajaran selesai.
“ Kemana dulu…” kataku asal.
“ Kemana aja, muter-muter sambil hunting tempat-tempat asik…” sambung Rio.
“ Nunggu Yogi keluar dulu, deh…”
“ Gimana kuliah lo?”
“ Masih sama kayak kemarin, membosankan tapi asik.”
“ Gimana bisa, ngebosenin tapi asik… aneh…”
Tak lama kemudian, muncullah sosok yang dinanti-nanti kehadirannya.
“ Dosen lo ceramah apaan sih. Lama banget.” celoteh Rio.
“ Maaf…” kata Yogi pelan sambil mengambil tempat duduk disampingku.
“ Rio ngajak nongkrong. Lo sibuk nggak…” tanyaku.
“ Hari ini bisa, lagian tugasku udah selesai. Jadi bisa bebas.”
“ Bagus deh. Kalo gitu nggak usah banyak cincong. Kita berangkat sekarang?” tanya Rio.
Kami berdua segera berdiri dari tempat duduk. Dan kami bertigapun segera menuju parkiran dimana mobil Rio diparkir. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Yogi menghentikan langkahnya.
“ Kenapa?” tanyaku sambil berhenti dan diikuti oleh Rio yang juga menghentikan langkahnya.
“ Trouble, nih… Lia, temen satu kelompokku sms. Dia bilang tugas yang kemarin aku kasih ke dia ada yang miss. Padahal besok dikumpulin.” jelas Yogi.
“ Ya udah… lo pergi aja. Lain kali aja lo ikut.” usul Rio yang langsung diiyakan oleh Yogi.
Al hasil, hari itu hanya aku dan Rio yang pergi. Akhirnya, setelah satu jam perjalanan kami sampai di sebuah café baru yang tidak jauh dari kampus kami. Kami segera masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Akhirnya, kami memilih kursi yang ada di balkon atas dengan alasan masih sepi dan bisa langsung melihat pemandangan jalan sore itu yang tidak terlalu ramai seperti biasanya.
“ Tumben lo diem aja. Kenapa? Sariawan lo?” tanyaku pada Rio saat kami sudah sampai di kursi yang kami mau.
“ Enak aja…”
“ Trus kenapa? Nggak biasanya lo diem gini. Ada masalah sama dosen lo? Atau sama gebetan lo?”
“ Gak lah… eh, kemarin lo bilang ada yang suka sama lo. Siapa? Normal gak sih tuh cowok. Kok bisa-bisanya suka sama cewek jadi-jadian kayak lo.”
“ Gue cewek Yoyo… aseli cewek tau!!!” serobotku cepat dan cukup keras.
“ HAHAHA…”
“ Ketawa aja sepuas lo, sebelum ketawa dilarang sama pemerintah.”
“ HEHEHE.”
“ Eh, Yo… mumpung gak ada Yogi, lo cerita dong soal cewek inceran lo itu. Masa iya kita sahabatan udah 3 tahun gue nggak tahu siapa cewek itu.”
“ Ngapain… nggak penting juga…”
“ Nggak penting gimana? Bukannya lo udah ngincer dia dari semester 1, kan…”
“ Iya…”
“ Ih… mainnya rahasiaan. Pelit amat seh jadi orang. Lo nggak tahu kalo orang pelit itu kuburannya sempit!”
“ Tahu, makanya sekarang gue lagi nabung. Ntar duitnya bisa gue pake buat ngontrak rumah di kuburan.”
“ Sarappppp…”
Dari semester pertama, Rio sudah cerita bahwa dia menyukai seseorang. Tapi sampai sekarang, kami berdua sama sekali tidak tahu siapa sosok misterius tersebut. Dia begitu rapat menyimpan rahasianya yang satu ini.
Seminggu kemudian…
“ Tumben jam segini udah keluar kelas…” kataku pada Yogi saat tiba-tiba dia muncul di kantin. Padahal, jam-jam segini adalah jam sibuk buat Yogi.
“ Hari ini dosen nggak masuk, jadi cuma tugas aja.”
“ Ooooo…”
“ La, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu,”
“ Sesuatu? Apa? Soal cewek?” tebakku asal.
“ Soal kamu.”
“ Hah!”
“ Aku gak tau, aku bingung gimana ngomongnya…”
“ Ya ngomong aja. Emang ada apaan sih…”
“ Sejak aku lihat kamu pertama kali di kantor administrasi, aku udah tertarik sama kamu. Aku gak tahu, tiap dekat kamu aku nyaman. Ada rasa yang berbeda saat aku bersama kamu.”
“ Bentar… lo lagi ngapalin teks drama kampus atau ini salah satu kalimat dalam teks puisi yang lagi lo apalin? Hah?” kataku asal karena aneh saat mendengar Yogi berbicara seperti itu.
“ Aku serius… Aku suka sama kamu.”
Sesaat seluruh aliran darahku berhenti saat mendengar pengakuan Yogi.
“ Aku gak peduli apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini. Tapi aku jujur. Ini bener-bener tulus dari hatiku.”
“…”
“ La… kamu denger aku, kan?”
“…”
“ La!”
“ Eh, i… iya gue denger, kok…”
Pengakuan yang begitu mengejutkan keluar dari mulut seorang Yogi yang notabene adalah seorang sahabat yang ku anggap sebagai abang sendiri. Tentu saja aku tidak langsung menjawabnya. Aku masih terkejut. Aku bingung harus bagaimana. Marahh kah? Senang kah? Atau bagaimana, harus bagaimana aku?
Keesokan harinya, karena merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri aku memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Rio sekaligus meminta pendapatnya. Kebetulan sekali, hari itu Rio juga ingin bertemu karena ingin membicarakan sesuatu padaku. Kamipun sepakat akan bertemu malam harinya di warung nasi goreng Mang Ayub yang ada di dekat kos kami.
Pukul 8 tepat, aku segera bergegas ke tempat Mang Ayub dimana Rio sudah tiba duluan.
“ Tumben tepat waktu pak dokter…” godaku pada Rio.
“ Calon dokter…”
“ Iya… ntar akhirnya juga jadi dokter, kan…”
“ Iya… dan lo jadi nyonya dokternya.”
“ Nggak ah… jadi nyonya dokter ribet. Apalagi dokternya sarap kayak lo gini… ogah!” celotehku santai karena menganggap Rio tidak serius dengan ucapannya.
“ Tapi gue serius, La…”
“…”
“ Bukannya lo pernah nanyain siapa cewek inceran gue dari semester pertama sampai sekarang itu siapa? Lo tau kenapa gue nggak bisa ngasih tau ke lo?”
“ Kenapa? Karena cewek itu buronan polisi ya?”
“ Karena cewek itu lo. Cewek inceran gue itu lo, La…”
“…”
“ Gue suka sama lo…”
Rasanya malam itu kayak ada petir yang menyambar keras tepat di atas kepalaku. Bagaimana mungkin dua orang sahabat menyatakan perasaannya padaku di waktu yang hampir bersamaan. Bingung harus mengatakan apa, sama seperti Yogi yang hanya kudiamkan tanpa mengatakan sepatah katapun Rio juga aku perlakukan hal yang sama. Aku tak tau apa yang sedang terjadi.
Keesokan harinya, aku mengumpulkan Yogi dan Rio di taman depan kantor administrasi tempat pertama kali kami bertiga bertemu.
“ Gue nggak tau apa yang sedang kalian rencanain. Tapi jujur Gue kecewa. Kenapa kalian harus nutupin perasaan kalian. Kenapa kalian nggak ngomong dari awal kalau kalian suka sama gue. Karena, kalo gue tau kalian suka sama gue, gue nggak perlu repot-repot buat sahabatan sama kalian.”
“ La…” panggil Yogi dan Rio bersamaan.
“ Gue gak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara hal ini. Dan gue juga nggak peduli walaupun kalian ngomong beratus-ratus kali kalo kalian suka sama gue. Gue tetap pada keputusan gue.”
“…” saat itu mereka hanya terdiam menunggu kalimat apa yang akan kuucapkan selanjutnya.
“ Gue udah punya tunangan… Dan setelah Gue lulus, gue bakal nikah sama dia. Kita udah pacaran sejak SMA.” jelasku tegas tapi pelan.
Jelas pengakuanku tersebut mengagetkan mereka berdua.
“ Sorry kalo selama ini Gue nggak ngomong ke kalian soal ini. Dulu gue udah sempat cerita soal ini kan… Tapi kalian nganggep ini cuma lelucon.”
“ Lola…” panggil Yogi pelan.
“ Gue hargai keberanian dan kejujuran kalian soal perasaan kalian masing-masing ke Gue. Tapi, sorry Gue gak bisa…”
Mereka hanya terdiam membisu tak menjawab apa-apa. Aku tau ini begitu mengagetkan mereka. Aku juga tau, aku telah melukai hati dua orang sekaligus. Aku sadar aku telah mengecewakan mereka. Tapi memang itulah realita sebenarnya.
Akupun mendekat pada Rio dan Yogi. Menggenggam erat tangan mereka dengan senyum terbaik yang kumiliki. Sesaat Yogi melepaskan tanganku, menatap tajam mataku dan kemudian pergi meninggalkan kami berdua. Aku tau dia kecewa. Tapi dia harus terima kenyataan yang ada, kenyataan bahwa aku sudah bertunangan dan tidak mungkin menerima cintanya.
Melihat Yogi yang berlalu, aku hanya bisa menahan air mata.
“ Kita udah kayak cerita di drama-drama Korea belom?” celetuk Rio yang membuatku tersenyum simpul karena tak bisa menahan air mata.
Rio segera menarikku ke dalam pelukannya. Membelai lembut rambut panjangku. Melihat apa yang dilakukan Rio, aku semakin tak bisa menahan rasa bersalahku pada mereka berdua.
“ Lo punya hak buat nglakuin hal ini. Lo gak salah. Hanya saja… mungkin ini semua terlalu cepat buat Yogi.” ucapnya pelan. Kaget mendengar seorang Rio bisa mengatakan hal seperti itu membuatku tangisku semakin menjadi.
“…”
“ Dengan begini, kita bisa jadi sahabat yang paling solid di kampus ini… bahkan di dunia ini… iya kan?” sesaat kalimat Rio membuatku tenang. Membuatku percaya bahwa semua akan kembali seperti semula.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala pelan. Aku tahu Rio juga menahan rasa sakit dan kecewanya padaku. Tapi dia berusaha menutupinya dariku karena dia nggak mau terlihat lemah di depanku, di depan cewek yang dicintainya. Dan aku menghargai dan menghormati apapun keputusan peradilan mereka berdua padaku.
Hal ini bukanlah akhir dari persahabatan kami. Karena ini adalah awal dari segalanya.    

sinopsis novel kuh ..


hehehe ..,
sekarang lagi nyoba-nyoba buat nulis novel neh ..., gak tau juga seh bagus apa nggak .., ceritanya seh cerita novel pada umumnya, biasa tentang cinta remaja lah .., kan aku biasanya nulis cerpen neh ..., belajar corat-coret cerita pendek gitu lah .., eh gak taunya malah ketagihan dan malah merasa tertantang buat bikin novel. dengan cerita yang lebih panjang tentunya ...
awalnya ngrasa berat juga seh .., tapi setelah dijalani oke oke aja tuh .., malah merasa enjoy banget tuh ..,
disini aku pengen bagi-bagi sedikit tentang sinopsisnya itu .., comment ya ..........................

CINTA INI MILIKNYA
"Ada seorang cewek, Rei namanya. Dia punya pengalaman yang gak enak tentang mantannya, Bintang. Bintang adalah sosok cowok idaman dan populer di sekolah SMA Harapan. Bintang yang seorang kapten basket, ganteng, dan baik ini lebih memilih memacari seorang Rei daripada cewek cantik lain di sekolah SMA Harapan. Hingga pada suatu hari, Bintang harus memutuskan Rei dan meninggalkannya begitu saja tanpa memberitahu dulu apa alasan Bintang meninggalkan Rei. Rei jelas sakit hati dan terus memikirkan alasan apa yang membuat Bintang memutuskannya seperti itu. Rei tak bisa membuka mata dan hatinya untuk cowok lain. Hingga dia harus bertemu seorang cowok yang awalnya dia gak suka, Rivan. Tapi, pelahan namun pasti Rei mulai bisa melupakan sosok Bintang. Perhatian yang Rivan berikan membuat Rei tak bisa melupakannya. Dan dengan perlahan pula, Rei merasakan ada cinta dalam hatinya. Ada rasa cinta yang mulai berkembang dalam hati Rei. Hingga pada suatu ketika, hubungan Rei dan Rivan harus merenggang karena kehadiran sosok Selly, cewek tercantik di SMA Harapan. Selly yang tiba-tiba minta bantuan Rei untuk mendekatkan Selly dengan Rivan. Jelas saja, Rei terkejut dan tak dapat menolak permintaan Selly. Hingga pada akhirnya hubungan Selly dan Rivan dapat berjalan lancar. Hingga pada akhirnya hubungan Selly dan Rivan putus karena Selly mengaku kalau dirinya hanya menjadikan Rivan sebagai bahan taruhannya saja. Rei mencoba menghibur Rivan, tapi Rei kaget saat tahu kalau Rivan merasa baik-baik saja dan malah bersyukur dengan putusnya hubungannya dengan Selly. Akhirnya hubungan Rei dan Rivan pun kembali membaik. dan kemudian Rei harus menghadapi kenyataan baru bahwa Bintang telah kembali. Di sini Rei bingung. Perlahan tapi pasti, Reipun kembali dekat dengan Bintang. Rasa cinta yang dulu pernah hilang kini datang kembali dalam hati Rei. Rei yang mulai menyukai dan mencintai Rivan. Tapi Rei tak bisa membohongi hatinya bahwa dia merindukan dan membutukan Bintang. Lalu, siapakah yang akan dipilih oleh Rei ???????????? Bintang, cinta pertamanya ataukah Rivan yang mulai dia cinta ????????????????"

.... gimana tuh cerita selengkapnya ????????????? ........

“ Udahlah Ca…lupain aja yang udah berlalu” suara Tania penuh kesabaran.

“ Sahabat aku sendiri tega menusuk aku dari belakang. Sulit dipercaya…” ucap Eca dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar ucapan Eca, Tania dan Taya hanya diam dalam tanya. Eca berusaha memutar memori dalam otak kecilnya. Tepatnya tiga tahun yang lalu saat dia masih duduk di kelas 7. Saat itu Eca menyukai kakak kelasya, Reiko. Hubungan mereka sempat berjalan dengan lancar, bahkan mereka sering menjalin komunikasi lewat telepon. Hingga suatu ketika saat Eca hendak menelpon ruben lewat nomor rumahnya.

Tut…tut…tut…

“ Halo ! “ suara di seberang telepon yang membuat Eca kaget. Karena suara itu begitu asing baginya. Tidak seperti suara yang selalu dia dengar.

“ Bisa bicara dengan Kak Reiko ? “ tanya Eca pelan.

“ Dia lagi latihan band tuh… Ini dari siapa ya… nanti biar aku sampaiin “ jawab suara di seberang.

“ Gitu ya… Kalo gitu ntar bilang aja ini dari Eca “ ucap Eca.

“ Oh… Eca ya… Reiko sering cerita tentang kamu lho… “

“ Masa sih… Emang kamu siapanya Reiko?” tanya Eca penasaran.

“ Aku Ruben, sepupunya Reiko.” jawab Ruben singkat.

Sejak peristiwa tersebut, hubungan mereka semakin dekat saja. Dari Rubenlah, Eca tahu bahwa Reiko adalah seorang playboy kelas berat. Dan dari Ruben jugalah, Eca tahu bahwa selama ini Reiko telah menipunya dengan memberinya harapan-harapan semu untuknya. Eca merasa kecewa terhadap sikap Reiko selama ini.

Tapi, justru karena hal tersebut Eca dan Ruben sering berhubungan. Walaupun hanya sekedar SMS, telepon, atau bahkan bertemu di rumah Ruben atau di Café.

Perlahan tapi pasti, Eca mulai tertarik pada Ruben. Namun sayang cinta Eca tak terbalaskan. Karena Ruben hanya menganggapnya sebagai adik, adik terbaiknya. Perih memang, tapi Eca tetap bertahan dan berharap Ruben akan berubah pikiran.

Hingga suatu saat Eca memutuskan hubungan dengan Reiko dan Ruben begitu saja. Eca beralasan hanya ingin jauh dari kehidupan dua orang laki-laki yang pernah singgah di hatinya. Eca merasa lelah, lelah karena cinta. Cinta yang tak dapat dia miliki seutuhnya.

Eca pisah hubungan dengan Ruben selama dua tahun. Hingga sekarang, saat Eca sudah SMA. Ternyata selama dua tahun tersebut, ruben tetap menanti kedatangan Eca. Tapi Ruben bingung bagaimana dia bisa dekat kembali dengan Eca, seperti dulu saat mereka masih bersama.

Akhirnya setelah dua tahun tak bertemu, mereka dipertemukan kembali. Kakak kelas Eca yang kebetulan adalah teman ruben meminta nomor handphone Eca atas nama Ruben.Tanpa pikir panjang, Eca memberikannya.

Beberapa minggu Eca menunggu SMS dari Ruben. Tapi, hasilnya nihil ! Ruben tidak SMS. Karena kesal, Akhirnya Eca menemui kakak kelasnya untuk meminta nomor handphone Ruben yang baru.

Eca segera menelpon Ruben, setelah mendapatkan nomor handphone Ruben.

“ Halo! “ suara Eca ragu.

“ Ya… ! “ jawab Ruben tak kalah ragunya dengan Eca.

“ Masih ingat sama aku nggak ? “ tanya Eca penuh harap.

“ Masih… Ini Eca adik, adik terbaikku kan… “

Mendengar hal tersebut, Eca merasa masih punya kesempatan.

“ Kok SMS aku nggak pernah dibalas, dek… “ tanya Ruben kembali.

“ Masa sih… “ ucap Eca heran. Padahal selama ini, Ecalah yang menggu kabar dari Ruben. Tapi nyatanya Ruben tidak memberinya kabar. Dari situ Eca tahu, bahwa kakak kelasnya memberikan nomor handphonenya yang baru pada orang lain, bukan pada Ruben.

“ Dek… minggu depan ada final futsal kan ? Kamu lihat nggak ? “ lanjut Ruben.

Karena memang suatu sekolah Eca mengadakan futsal. Dan minggu depan sudah final.

“ Mau sih… Tapi nggak tahu deh… “ jawab Eca lesu.

“ Kok nggak tahu… Mau lihat sama aku nggak ? “ ajak Ruben.

Eca sempat berpikir sejenak, hingga akhirnya, “ OK ! “

Satu minggu kemudian, acara final futsal datang. Malam itu Eca datang bersama Nayla, sahabatnya. Karena orang tua Eca tidak mengizinkan Eca datang sendiri.

“ Udah dari tadi, Kak… “ sapa Eca ramah saat berada di depan Ruben yang tengah duduk di atas motor mionya yang diparkir di depajn GOR.

“ Nggak juga… “ jawab Ruben singkat dengan senyum mengembang.

“ Kenalin Kak… Ini Nayla sahabat aku, dan Nayla ini Ruben kakak terbaikku. “ kenal Eca.Nayla dan Ruben berjabat tangan tanda salam kenal.

Acarapun selesai pada pukul 00.30 dini hari. Keadaanpun menjadi berdesakan dan penuh dengan motor yang berlalu lalang. Ruben berjalan di depan Eca dan Nayla yang terus bergandengan tangan. Hingga tiba-tiba…

“ Ayo, Ca… “ kata Ruben lembut seraya mengulurkan tangannya.

Eca hanya terdiam. Eca merasa perasaan yang dulu hilang, kini telah kembali. Mata Eca dan Rubenpun bertemu. Ruben menatap dalam mata Eca, seakan mencari dirinya dalam hati Eca.

Dengan ragu, Eca memberikan tangannya pada Ruben. Dengan sigap Ruben menggenggam erat tangan Eca.

Kejadian malam itu tak pernah Eca lupakan. Satu hari setelah malam final itu,

“ Halo, Dik… “ sapa Ruben ramah lewat handphone.

“ Iya, Kak… “ jawab Eca.

“ Dik,boleh minta nomor handphone temen kamu kemarin nggak ? “

“ Nayla ? nanti aku kirim lewat SMS ya… “

Pembicaraan itupun berakhir begitu saja. Eca berpikir, Ruben hanya menelponnya hanya untuk meminta nomor handphone Nayla ? Tapi untuk apa ? Tapi Eca segera mengirim nomor handphone Nayla pada Ruben. Ternyata tanpa sepengetahuan Eca, ternyata Nayla dan Ruben sering berkomunikasi lewat SMS.

Hingga suatu hari, Ruben mengajak Eca untuk bertemu. Tapi kali ini, Ruben meminta Eca juga mengajak Nayla.

Di rumah Ruben…

“ Hai, Kak… “ sapa Eca seraya berjabat tanan dengan Ruben.

Hari itu Eca merasa bete, karena Eca hanya menjadi obat nyamuk Ruben dan Nayla. Mereka tertawa, seperti sudah kenal lama. Eca hanya memperlihatkan sebuah lengkungan manis di wajahnya, setiap mereka tertawa.

Hingga suatu hari, saat Eca dan Nayla bertemu…

Eca merasa seperti kapal yang kehilangan haluan. Karena saat itu, Nayla mengaku bahwa dia juga menyukai Ruben sama seperti Eca yang juga menyukai Ruben. Padahal saat itu, Nayla sudah mempunyai kekasih. Hati Eca remuk mendengar hal tersebut. Tapi, Eca hanya bisa diam. Dia tak tega melukai perasaan sahabatnya, Nayla. Dia hanya dapat menyimpan perasaannya pada Ruben dalam hati, hanya untuk dirinya sendiri.

Bip…bip…bip

Handphone Eca yan bergetar, menyadarkan Eca dari lamunan memorial masa lalu yang kelabu. Eca melihat ke layar handphone. Ruben ! Eca terpana beberapa detik, Ruben yang dirindukannya selama ini !

“Dalam hati aku, posisi kamu sebagai adik terbaikku nggak akan tergantikan “ begitulah isi SMS Ruben.

“Ruben pourrait ne pas m`aimer, mais je suis surqu`elle m`aime. “

(Ruben mungkin tidak cinta aku, tapi dia sayang aku) ucap Eca lirih.

CABANG CINTA


Derat suara pintu tua terdengar jelas. Keluarlah seorang gadis manis, Rara. Dia keluar dengan menggunakan seragam putih abu-abu.“ Berangkat bareng yuk !!! “ ajak Sandy.Sandy adalah sahabatnya sejak kecil. Merekapun akhirnya berangkat bersama. Mereka menyusuri jalanan pagi itu yang masih disesaki oleh kabut putih.. Tak lama berjalan, mereka sampai. Mereka berpisah. Karena kelas mereka memang terpisah. Dan Rara kembali berjalan menuju kelasnya.“ Hai !!! “ sapa seorang cowok dari belakang. “ Gue, Willy. Gue anak baru di sini. Bisa anter ke kelas II-IPA-2. “ tanya cowok itu.“ Ow, anak baru ya… Itu kelas Gue. Kalo mau kita bareng aja.” kata Rara manis.Makin hari, Willy makin dekat dengan Rara. Dan kedekatan mereka itu membuat Sandy cemburu. Bahkan, kedekatan mereka berlanjut hingga di luar sekolah. Mereka sering mengerjakan tugas bersama.Hingga pada suatu ketika, Willy mengajak Rara ke sutu tempat. Di tempat tersebut, Rara melihat banyak bunga yang bergerombol yang membentuk sebuah gambar love.“ Sekarang, apa kamu bisa lihat isi hati aku ? “ tanya Willy.“ Aku suka sama kamu, Ra ……… dan kamu ………??? “ lanjut Willy.Rara hanya membalasnya dengan sebuah senyuman manis. Tak lama kemudian, Rara meninggalkan tempat itu dalam bisu.Keesokan harinya,Sandy mengajak Rara ke sebuah tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Tempat tersebut sangat gelap. Tapi, ketika Rara datang, tempat tersebut berubah menjadi terang dengan cahaya lilin di mana-mana.“ Apa ! Ini semuanya kau yang ……………” ucap Rara terpesona.“ Ya, Ra ! Aku buat semua ini hanya untuk kamu. Kamu suka ? “ tanya Sandy. Rara hanya menjawabnya dengan mengangguk.“ Aku suka sama kamu. Want you to be my girlfriend ? “ tanya Sandy.Rara hanya terdiam, dan menatap Sandy. Dan diapun meninggalkan tempat tersebut tanpa sepatah katapun.3 hari kemudian…………Rara mengajak Sandy dan Willy untuk bertemu di pantai.. Rara yang pertama datang, dia memanfaatkannya untuk merenung hinnga beberapa tetes air matanya menetes. Tak lama kemudian, Willy datang. Dan Willy langsung duduk di samping kanan Rara.“ Kenapa harus bertiga sich………….” tanya Willy memecah keheningan.“ Supaya semua jelas. Biar nggak ada yang salah paham dan terluka nantinya.” Jelas Rara.Dan beberapa saat kemudian,Sandy datang. Diapun segera duduk di samping kiri Rara. Mereka duduk bertiga, memandang ombak pantai. Secara bersamaan, Sandy dan Willy menatap Rara. Tapi, Rara hanya tersenyum manis.“ Setiap manusia harus punya cinta.” suara Rara yang memecah keheningan.“ Tapi, kita nggak pernah tahu apa dampak yang akan ditimbulkan cinta.” lanjut Rara. Membuat Sandy dan willy terus menatapnya dengan perasaan bingung.“ Willy, kamu cowok cool dengan perasaan yang lembut dan kamu romantis.Sandy, cowok dingin yang penuh perhatiandan penuh kejujuran. Aku nggak mau ada yang terluka. Bukannya aku egois, aku Cuma nggak mau kalian ngedapetin cewek kaya’ aku. “ jelas Rara dengan berurai air mata.“ Aku,aku, aku……………… aku sakit leukemia. Dan kata dokter, ini hari terakhirku. “ Willy dan Sandy hanya terpaku tidak percayadengan apa yang telah mereka dengar. Rara menyandarkan kepalanya pada pundak Sandy, dan tangannya menggenggam erat tangan Willy.“ Terima kasih. Terima kasih atas hal-hal baru yang indah dalam kesempatan terakhirku. Dan maaf……………..maaf aku udah buat kalian kecewa.” lanjut Rara dengan beruarai air mata.Mereka bersama menatap ombak. Hingga pada akhirnya, mata Rara tertutup untuk selamanya. Genggaman tangannya semakin lemah. Ya, Rara telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum di pipinya. Sandy dan Willy hanya terpaku dalam bisu. Karena di depan mereka telah terbujur kaku tubuh gadis yang mereka cintai.*********
Copyright 2009 it`s my story.... All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates