dia...
LOLA FACT
Sebagai anak rantau, aku tidak pernah membeda-bedakan siapa yang pantas menjadi temanku dan siapa yang tidak. Dan karena hal itulah, aku punya dua orang sahabat. Mereka adalah Yogi Firmansyah dan Rio Ginanjar. Mereka adalah orang-orang yang selalu setia menemani dan berada di sampingku saat aku membutuhkan bantuan.
Yogi Firmansyah. Dia adalah mahasiswa semester 6 jurusan Management Ekonomi. Yogi adalah orang yang sopan. Di antara kami bertiga, dia adalah orang yang paling lurus jika dibandingkan denganku dan Rio. Sifatnya yang sabar dan tidak pernah marah membuatku merasa seperti punya kakak yang selalu melindungi dan mengayomi adiknya.
Rio Ginanjar. Seorang mahasiswa semester 6 jurusan kedokteran. Aneh memang jika tahu seorang Rio yang urakan dan tidak terlalu pintar bisa masuk kedokteran. Tapi itulah Rio, dia adalah malaikat keberuntungan bagi kami bertiga. Hidupnya santai, lucu, tapi dia adalah cowok yang bertanggung jawab. Tampangnya yang lumayan oke, membuatnya digilai banyak cewek di kampus. Tapi entah kenapa dia memilih untuk jomblo. Kalau dia mau, dia bisa saja menjadi seorang player kelas tongkol, tapi dia tidak mau melakukannya.
Kami mulai bersahabat sejak pertama kali daftar di universitas yang sama. Saat itu, kami bertiga sama-sama tersesat karena kebingungan mencari kantor administrasi. Dari perkenalan singkat, kamipun menjadi sering bertemu karena kos di komplek yang sama. Dari situlah kami mulai dekat dan kemudian menjadi sahabat sampai sekarang.
“ Pulang kuliah nongkrong bentar, yuk!” ajak Rio saat aku tiba di kantin setelah jam pelajaran selesai.
“ Kemana dulu…” kataku asal.
“ Kemana aja, muter-muter sambil hunting tempat-tempat asik…” sambung Rio.
“ Nunggu Yogi keluar dulu, deh…”
“ Gimana kuliah lo?”
“ Masih sama kayak kemarin, membosankan tapi asik.”
“ Gimana bisa, ngebosenin tapi asik… aneh…”
Tak lama kemudian, muncullah sosok yang dinanti-nanti kehadirannya.
“ Dosen lo ceramah apaan sih. Lama banget.” celoteh Rio.
“ Maaf…” kata Yogi pelan sambil mengambil tempat duduk disampingku.
“ Rio ngajak nongkrong. Lo sibuk nggak…” tanyaku.
“ Hari ini bisa, lagian tugasku udah selesai. Jadi bisa bebas.”
“ Bagus deh. Kalo gitu nggak usah banyak cincong. Kita berangkat sekarang?” tanya Rio.
Kami berdua segera berdiri dari tempat duduk. Dan kami bertigapun segera menuju parkiran dimana mobil Rio diparkir. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Yogi menghentikan langkahnya.
“ Kenapa?” tanyaku sambil berhenti dan diikuti oleh Rio yang juga menghentikan langkahnya.
“ Trouble, nih… Lia, temen satu kelompokku sms. Dia bilang tugas yang kemarin aku kasih ke dia ada yang miss. Padahal besok dikumpulin.” jelas Yogi.
“ Ya udah… lo pergi aja. Lain kali aja lo ikut.” usul Rio yang langsung diiyakan oleh Yogi.
Al hasil, hari itu hanya aku dan Rio yang pergi. Akhirnya, setelah satu jam perjalanan kami sampai di sebuah café baru yang tidak jauh dari kampus kami. Kami segera masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Akhirnya, kami memilih kursi yang ada di balkon atas dengan alasan masih sepi dan bisa langsung melihat pemandangan jalan sore itu yang tidak terlalu ramai seperti biasanya.
“ Tumben lo diem aja. Kenapa? Sariawan lo?” tanyaku pada Rio saat kami sudah sampai di kursi yang kami mau.
“ Enak aja…”
“ Trus kenapa? Nggak biasanya lo diem gini. Ada masalah sama dosen lo? Atau sama gebetan lo?”
“ Gak lah… eh, kemarin lo bilang ada yang suka sama lo. Siapa? Normal gak sih tuh cowok. Kok bisa-bisanya suka sama cewek jadi-jadian kayak lo.”
“ Gue cewek Yoyo… aseli cewek tau!!!” serobotku cepat dan cukup keras.
“ HAHAHA…”
“ Ketawa aja sepuas lo, sebelum ketawa dilarang sama pemerintah.”
“ HEHEHE.”
“ Eh, Yo… mumpung gak ada Yogi, lo cerita dong soal cewek inceran lo itu. Masa iya kita sahabatan udah 3 tahun gue nggak tahu siapa cewek itu.”
“ Ngapain… nggak penting juga…”
“ Nggak penting gimana? Bukannya lo udah ngincer dia dari semester 1, kan…”
“ Iya…”
“ Ih… mainnya rahasiaan. Pelit amat seh jadi orang. Lo nggak tahu kalo orang pelit itu kuburannya sempit!”
“ Tahu, makanya sekarang gue lagi nabung. Ntar duitnya bisa gue pake buat ngontrak rumah di kuburan.”
“ Sarappppp…”
Dari semester pertama, Rio sudah cerita bahwa dia menyukai seseorang. Tapi sampai sekarang, kami berdua sama sekali tidak tahu siapa sosok misterius tersebut. Dia begitu rapat menyimpan rahasianya yang satu ini.
Seminggu kemudian…
“ Tumben jam segini udah keluar kelas…” kataku pada Yogi saat tiba-tiba dia muncul di kantin. Padahal, jam-jam segini adalah jam sibuk buat Yogi.
“ Hari ini dosen nggak masuk, jadi cuma tugas aja.”
“ Ooooo…”
“ La, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu,”
“ Sesuatu? Apa? Soal cewek?” tebakku asal.
“ Soal kamu.”
“ Hah!”
“ Aku gak tau, aku bingung gimana ngomongnya…”
“ Ya ngomong aja. Emang ada apaan sih…”
“ Sejak aku lihat kamu pertama kali di kantor administrasi, aku udah tertarik sama kamu. Aku gak tahu, tiap dekat kamu aku nyaman. Ada rasa yang berbeda saat aku bersama kamu.”
“ Bentar… lo lagi ngapalin teks drama kampus atau ini salah satu kalimat dalam teks puisi yang lagi lo apalin? Hah?” kataku asal karena aneh saat mendengar Yogi berbicara seperti itu.
“ Aku serius… Aku suka sama kamu.”
Sesaat seluruh aliran darahku berhenti saat mendengar pengakuan Yogi.
“ Aku gak peduli apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini. Tapi aku jujur. Ini bener-bener tulus dari hatiku.”
“…”
“ La… kamu denger aku, kan?”
“…”
“ La!”
“ Eh, i… iya gue denger, kok…”
Pengakuan yang begitu mengejutkan keluar dari mulut seorang Yogi yang notabene adalah seorang sahabat yang ku anggap sebagai abang sendiri. Tentu saja aku tidak langsung menjawabnya. Aku masih terkejut. Aku bingung harus bagaimana. Marahh kah? Senang kah? Atau bagaimana, harus bagaimana aku?
Keesokan harinya, karena merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri aku memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Rio sekaligus meminta pendapatnya. Kebetulan sekali, hari itu Rio juga ingin bertemu karena ingin membicarakan sesuatu padaku. Kamipun sepakat akan bertemu malam harinya di warung nasi goreng Mang Ayub yang ada di dekat kos kami.
Pukul 8 tepat, aku segera bergegas ke tempat Mang Ayub dimana Rio sudah tiba duluan.
“ Tumben tepat waktu pak dokter…” godaku pada Rio.
“ Calon dokter…”
“ Iya… ntar akhirnya juga jadi dokter, kan…”
“ Iya… dan lo jadi nyonya dokternya.”
“ Nggak ah… jadi nyonya dokter ribet. Apalagi dokternya sarap kayak lo gini… ogah!” celotehku santai karena menganggap Rio tidak serius dengan ucapannya.
“ Tapi gue serius, La…”
“…”
“ Bukannya lo pernah nanyain siapa cewek inceran gue dari semester pertama sampai sekarang itu siapa? Lo tau kenapa gue nggak bisa ngasih tau ke lo?”
“ Kenapa? Karena cewek itu buronan polisi ya?”
“ Karena cewek itu lo. Cewek inceran gue itu lo, La…”
“…”
“ Gue suka sama lo…”
Rasanya malam itu kayak ada petir yang menyambar keras tepat di atas kepalaku. Bagaimana mungkin dua orang sahabat menyatakan perasaannya padaku di waktu yang hampir bersamaan. Bingung harus mengatakan apa, sama seperti Yogi yang hanya kudiamkan tanpa mengatakan sepatah katapun Rio juga aku perlakukan hal yang sama. Aku tak tau apa yang sedang terjadi.
Keesokan harinya, aku mengumpulkan Yogi dan Rio di taman depan kantor administrasi tempat pertama kali kami bertiga bertemu.
“ Gue nggak tau apa yang sedang kalian rencanain. Tapi jujur Gue kecewa. Kenapa kalian harus nutupin perasaan kalian. Kenapa kalian nggak ngomong dari awal kalau kalian suka sama gue. Karena, kalo gue tau kalian suka sama gue, gue nggak perlu repot-repot buat sahabatan sama kalian.”
“ La…” panggil Yogi dan Rio bersamaan.
“ Gue gak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara hal ini. Dan gue juga nggak peduli walaupun kalian ngomong beratus-ratus kali kalo kalian suka sama gue. Gue tetap pada keputusan gue.”
“…” saat itu mereka hanya terdiam menunggu kalimat apa yang akan kuucapkan selanjutnya.
“ Gue udah punya tunangan… Dan setelah Gue lulus, gue bakal nikah sama dia. Kita udah pacaran sejak SMA.” jelasku tegas tapi pelan.
Jelas pengakuanku tersebut mengagetkan mereka berdua.
“ Sorry kalo selama ini Gue nggak ngomong ke kalian soal ini. Dulu gue udah sempat cerita soal ini kan… Tapi kalian nganggep ini cuma lelucon.”
“ Lola…” panggil Yogi pelan.
“ Gue hargai keberanian dan kejujuran kalian soal perasaan kalian masing-masing ke Gue. Tapi, sorry Gue gak bisa…”
Mereka hanya terdiam membisu tak menjawab apa-apa. Aku tau ini begitu mengagetkan mereka. Aku juga tau, aku telah melukai hati dua orang sekaligus. Aku sadar aku telah mengecewakan mereka. Tapi memang itulah realita sebenarnya.
Akupun mendekat pada Rio dan Yogi. Menggenggam erat tangan mereka dengan senyum terbaik yang kumiliki. Sesaat Yogi melepaskan tanganku, menatap tajam mataku dan kemudian pergi meninggalkan kami berdua. Aku tau dia kecewa. Tapi dia harus terima kenyataan yang ada, kenyataan bahwa aku sudah bertunangan dan tidak mungkin menerima cintanya.
Melihat Yogi yang berlalu, aku hanya bisa menahan air mata.
“ Kita udah kayak cerita di drama-drama Korea belom?” celetuk Rio yang membuatku tersenyum simpul karena tak bisa menahan air mata.
Rio segera menarikku ke dalam pelukannya. Membelai lembut rambut panjangku. Melihat apa yang dilakukan Rio, aku semakin tak bisa menahan rasa bersalahku pada mereka berdua.
“ Lo punya hak buat nglakuin hal ini. Lo gak salah. Hanya saja… mungkin ini semua terlalu cepat buat Yogi.” ucapnya pelan. Kaget mendengar seorang Rio bisa mengatakan hal seperti itu membuatku tangisku semakin menjadi.
“…”
“ Dengan begini, kita bisa jadi sahabat yang paling solid di kampus ini… bahkan di dunia ini… iya kan?” sesaat kalimat Rio membuatku tenang. Membuatku percaya bahwa semua akan kembali seperti semula.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala pelan. Aku tahu Rio juga menahan rasa sakit dan kecewanya padaku. Tapi dia berusaha menutupinya dariku karena dia nggak mau terlihat lemah di depanku, di depan cewek yang dicintainya. Dan aku menghargai dan menghormati apapun keputusan peradilan mereka berdua padaku.
Hal ini bukanlah akhir dari persahabatan kami. Karena ini adalah awal dari segalanya.
sinopsis novel kuh ..
sekarang lagi nyoba-nyoba buat nulis novel neh ..., gak tau juga seh bagus apa nggak .., ceritanya seh cerita novel pada umumnya, biasa tentang cinta remaja lah .., kan aku biasanya nulis cerpen neh ..., belajar corat-coret cerita pendek gitu lah .., eh gak taunya malah ketagihan dan malah merasa tertantang buat bikin novel. dengan cerita yang lebih panjang tentunya ...
awalnya ngrasa berat juga seh .., tapi setelah dijalani oke oke aja tuh .., malah merasa enjoy banget tuh ..,
disini aku pengen bagi-bagi sedikit tentang sinopsisnya itu .., comment ya ..........................
.... gimana tuh cerita selengkapnya ????????????? ........
“ Udahlah Ca…lupain aja yang udah berlalu” suara Tania penuh kesabaran.
“ Sahabat aku sendiri tega menusuk aku dari belakang. Sulit dipercaya…” ucap Eca dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Eca, Tania dan Taya hanya diam dalam tanya. Eca berusaha memutar memori dalam otak kecilnya. Tepatnya tiga tahun yang lalu saat dia masih duduk di kelas 7. Saat itu Eca menyukai kakak kelasya, Reiko. Hubungan mereka sempat berjalan dengan lancar, bahkan mereka sering menjalin komunikasi lewat telepon. Hingga suatu ketika saat Eca hendak menelpon ruben lewat nomor rumahnya.
Tut…tut…tut…
“ Halo ! “ suara di seberang telepon yang membuat Eca kaget. Karena suara itu begitu asing baginya. Tidak seperti suara yang selalu dia dengar.
“ Bisa bicara dengan Kak Reiko ? “ tanya Eca pelan.
“ Dia lagi latihan band tuh… Ini dari siapa ya… nanti biar aku sampaiin “ jawab suara di seberang.
“ Gitu ya… Kalo gitu ntar bilang aja ini dari Eca “ ucap Eca.
“ Oh… Eca ya… Reiko sering cerita tentang kamu lho… “
“ Masa sih… Emang kamu siapanya Reiko?” tanya Eca penasaran.
“ Aku Ruben, sepupunya Reiko.” jawab Ruben singkat.
Sejak peristiwa tersebut, hubungan mereka semakin dekat saja. Dari Rubenlah, Eca tahu bahwa Reiko adalah seorang playboy kelas berat. Dan dari Ruben jugalah, Eca tahu bahwa selama ini Reiko telah menipunya dengan memberinya harapan-harapan semu untuknya. Eca merasa kecewa terhadap sikap Reiko selama ini.
Tapi, justru karena hal tersebut Eca dan Ruben sering berhubungan. Walaupun hanya sekedar SMS, telepon, atau bahkan bertemu di rumah Ruben atau di Café.
Perlahan tapi pasti, Eca mulai tertarik pada Ruben. Namun sayang cinta Eca tak terbalaskan. Karena Ruben hanya menganggapnya sebagai adik, adik terbaiknya. Perih memang, tapi Eca tetap bertahan dan berharap Ruben akan berubah pikiran.
Hingga suatu saat Eca memutuskan hubungan dengan Reiko dan Ruben begitu saja. Eca beralasan hanya ingin jauh dari kehidupan dua orang laki-laki yang pernah singgah di hatinya. Eca merasa lelah, lelah karena cinta. Cinta yang tak dapat dia miliki seutuhnya.
Eca pisah hubungan dengan Ruben selama dua tahun. Hingga sekarang, saat Eca sudah SMA. Ternyata selama dua tahun tersebut, ruben tetap menanti kedatangan Eca. Tapi Ruben bingung bagaimana dia bisa dekat kembali dengan Eca, seperti dulu saat mereka masih bersama.
Akhirnya setelah dua tahun tak bertemu, mereka dipertemukan kembali. Kakak kelas Eca yang kebetulan adalah teman ruben meminta nomor handphone Eca atas nama Ruben.Tanpa pikir panjang, Eca memberikannya.
Beberapa minggu Eca menunggu SMS dari Ruben. Tapi, hasilnya nihil ! Ruben tidak SMS. Karena kesal, Akhirnya Eca menemui kakak kelasnya untuk meminta nomor handphone Ruben yang baru.
Eca segera menelpon Ruben, setelah mendapatkan nomor handphone Ruben.
“ Halo! “ suara Eca ragu.
“ Ya… ! “ jawab Ruben tak kalah ragunya dengan Eca.
“ Masih ingat sama aku nggak ? “ tanya Eca penuh harap.
“ Masih… Ini Eca adik, adik terbaikku kan… “
Mendengar hal tersebut, Eca merasa masih punya kesempatan.
“ Kok SMS aku nggak pernah dibalas, dek… “ tanya Ruben kembali.
“ Masa sih… “ ucap Eca heran. Padahal selama ini, Ecalah yang menggu kabar dari Ruben. Tapi nyatanya Ruben tidak memberinya kabar. Dari situ Eca tahu, bahwa kakak kelasnya memberikan nomor handphonenya yang baru pada orang lain, bukan pada Ruben.
“ Dek… minggu depan ada final futsal kan ? Kamu lihat nggak ? “ lanjut Ruben.
Karena memang suatu sekolah Eca mengadakan futsal. Dan minggu depan sudah final.
“ Mau sih… Tapi nggak tahu deh… “ jawab Eca lesu.
“ Kok nggak tahu… Mau lihat sama aku nggak ? “ ajak Ruben.
Eca sempat berpikir sejenak, hingga akhirnya, “ OK ! “
Satu minggu kemudian, acara final futsal datang. Malam itu Eca datang bersama Nayla, sahabatnya. Karena orang tua Eca tidak mengizinkan Eca datang sendiri.
“ Udah dari tadi, Kak… “ sapa Eca ramah saat berada di depan Ruben yang tengah duduk di atas motor mionya yang diparkir di depajn GOR.
“ Nggak juga… “ jawab Ruben singkat dengan senyum mengembang.
“ Kenalin Kak… Ini Nayla sahabat aku, dan Nayla ini Ruben kakak terbaikku. “ kenal Eca.Nayla dan Ruben berjabat tangan tanda salam kenal.
Acarapun selesai pada pukul 00.30 dini hari. Keadaanpun menjadi berdesakan dan penuh dengan motor yang berlalu lalang. Ruben berjalan di depan Eca dan Nayla yang terus bergandengan tangan. Hingga tiba-tiba…
“ Ayo, Ca… “ kata Ruben lembut seraya mengulurkan tangannya.
Eca hanya terdiam. Eca merasa perasaan yang dulu hilang, kini telah kembali. Mata Eca dan Rubenpun bertemu. Ruben menatap dalam mata Eca, seakan mencari dirinya dalam hati Eca.
Dengan ragu, Eca memberikan tangannya pada Ruben. Dengan sigap Ruben menggenggam erat tangan Eca.
Kejadian malam itu tak pernah Eca lupakan. Satu hari setelah malam final itu,
“ Halo, Dik… “ sapa Ruben ramah lewat handphone.
“ Iya, Kak… “ jawab Eca.
“ Dik,boleh minta nomor handphone temen kamu kemarin nggak ? “
“ Nayla ? nanti aku kirim lewat SMS ya… “
Pembicaraan itupun berakhir begitu saja. Eca berpikir, Ruben hanya menelponnya hanya untuk meminta nomor handphone Nayla ? Tapi untuk apa ? Tapi Eca segera mengirim nomor handphone Nayla pada Ruben. Ternyata tanpa sepengetahuan Eca, ternyata Nayla dan Ruben sering berkomunikasi lewat SMS.
Hingga suatu hari, Ruben mengajak Eca untuk bertemu. Tapi kali ini, Ruben meminta Eca juga mengajak Nayla.
Di rumah Ruben…
“ Hai, Kak… “ sapa Eca seraya berjabat tanan dengan Ruben.
Hari itu Eca merasa bete, karena Eca hanya menjadi obat nyamuk Ruben dan Nayla. Mereka tertawa, seperti sudah kenal lama. Eca hanya memperlihatkan sebuah lengkungan manis di wajahnya, setiap mereka tertawa.
Hingga suatu hari, saat Eca dan Nayla bertemu…
Eca merasa seperti kapal yang kehilangan haluan. Karena saat itu, Nayla mengaku bahwa dia juga menyukai Ruben sama seperti Eca yang juga menyukai Ruben. Padahal saat itu, Nayla sudah mempunyai kekasih. Hati Eca remuk mendengar hal tersebut. Tapi, Eca hanya bisa diam. Dia tak tega melukai perasaan sahabatnya, Nayla. Dia hanya dapat menyimpan perasaannya pada Ruben dalam hati, hanya untuk dirinya sendiri.
Bip…bip…bip
Handphone Eca yan bergetar, menyadarkan Eca dari lamunan memorial masa lalu yang kelabu. Eca melihat ke layar handphone. Ruben ! Eca terpana beberapa detik, Ruben yang dirindukannya selama ini !
“Dalam hati aku, posisi kamu sebagai adik terbaikku nggak akan tergantikan “ begitulah isi SMS Ruben.
“Ruben pourrait ne pas m`aimer, mais je suis surqu`elle m`aime. “
(Ruben mungkin tidak cinta aku, tapi dia sayang aku) ucap Eca lirih.






