Aku Lola, Lola Kamarine. Aku adalah seorang mahasiswi semester 6 jurusan psikologi. Aku bukanlah orang yang urakan, tapi aku juga bukan tipe orang yang selalu menjalani hidup dengan serius. Jadi… bisa dibilang aku adalah orang yang santai tapi tetap fokus dalam menjalani apapun yang sedang kulakukan. Hidup sebagai anak kos membuatku menjadi pribadi yang mandiri dan tak suka jika harus mengandalkan orang lain. Karena itu, sampai sekarang aku berusaha keras untuk meringankan beban orang tua dengan mencari kerja sampingan. Namun hal itu selalu saja gagal. Bukan karena aku tak becus dalam bekerja, tapi ini dikarenakan aku tak bisa mengatur waktuku dengan baik. Aku tidak mengatakan aku orang yang ceroboh, hanya tidak pandai mengatur waktu.
Sebagai anak rantau, aku tidak pernah membeda-bedakan siapa yang pantas menjadi temanku dan siapa yang tidak. Dan karena hal itulah, aku punya dua orang sahabat. Mereka adalah Yogi Firmansyah dan Rio Ginanjar. Mereka adalah orang-orang yang selalu setia menemani dan berada di sampingku saat aku membutuhkan bantuan.
Yogi Firmansyah. Dia adalah mahasiswa semester 6 jurusan Management Ekonomi. Yogi adalah orang yang sopan. Di antara kami bertiga, dia adalah orang yang paling lurus jika dibandingkan denganku dan Rio. Sifatnya yang sabar dan tidak pernah marah membuatku merasa seperti punya kakak yang selalu melindungi dan mengayomi adiknya.
Rio Ginanjar. Seorang mahasiswa semester 6 jurusan kedokteran. Aneh memang jika tahu seorang Rio yang urakan dan tidak terlalu pintar bisa masuk kedokteran. Tapi itulah Rio, dia adalah malaikat keberuntungan bagi kami bertiga. Hidupnya santai, lucu, tapi dia adalah cowok yang bertanggung jawab. Tampangnya yang lumayan oke, membuatnya digilai banyak cewek di kampus. Tapi entah kenapa dia memilih untuk jomblo. Kalau dia mau, dia bisa saja menjadi seorang player kelas tongkol, tapi dia tidak mau melakukannya.
Kami mulai bersahabat sejak pertama kali daftar di universitas yang sama. Saat itu, kami bertiga sama-sama tersesat karena kebingungan mencari kantor administrasi. Dari perkenalan singkat, kamipun menjadi sering bertemu karena kos di komplek yang sama. Dari situlah kami mulai dekat dan kemudian menjadi sahabat sampai sekarang.
“ Pulang kuliah nongkrong bentar, yuk!” ajak Rio saat aku tiba di kantin setelah jam pelajaran selesai.
“ Kemana dulu…” kataku asal.
“ Kemana aja, muter-muter sambil hunting tempat-tempat asik…” sambung Rio.
“ Nunggu Yogi keluar dulu, deh…”
“ Gimana kuliah lo?”
“ Masih sama kayak kemarin, membosankan tapi asik.”
“ Gimana bisa, ngebosenin tapi asik… aneh…”
Tak lama kemudian, muncullah sosok yang dinanti-nanti kehadirannya.
“ Dosen lo ceramah apaan sih. Lama banget.” celoteh Rio.
“ Maaf…” kata Yogi pelan sambil mengambil tempat duduk disampingku.
“ Rio ngajak nongkrong. Lo sibuk nggak…” tanyaku.
“ Hari ini bisa, lagian tugasku udah selesai. Jadi bisa bebas.”
“ Bagus deh. Kalo gitu nggak usah banyak cincong. Kita berangkat sekarang?” tanya Rio.
Kami berdua segera berdiri dari tempat duduk. Dan kami bertigapun segera menuju parkiran dimana mobil Rio diparkir. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Yogi menghentikan langkahnya.
“ Kenapa?” tanyaku sambil berhenti dan diikuti oleh Rio yang juga menghentikan langkahnya.
“ Trouble, nih… Lia, temen satu kelompokku sms. Dia bilang tugas yang kemarin aku kasih ke dia ada yang miss. Padahal besok dikumpulin.” jelas Yogi.
“ Ya udah… lo pergi aja. Lain kali aja lo ikut.” usul Rio yang langsung diiyakan oleh Yogi.
Al hasil, hari itu hanya aku dan Rio yang pergi. Akhirnya, setelah satu jam perjalanan kami sampai di sebuah café baru yang tidak jauh dari kampus kami. Kami segera masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Akhirnya, kami memilih kursi yang ada di balkon atas dengan alasan masih sepi dan bisa langsung melihat pemandangan jalan sore itu yang tidak terlalu ramai seperti biasanya.
“ Tumben lo diem aja. Kenapa? Sariawan lo?” tanyaku pada Rio saat kami sudah sampai di kursi yang kami mau.
“ Enak aja…”
“ Trus kenapa? Nggak biasanya lo diem gini. Ada masalah sama dosen lo? Atau sama gebetan lo?”
“ Gak lah… eh, kemarin lo bilang ada yang suka sama lo. Siapa? Normal gak sih tuh cowok. Kok bisa-bisanya suka sama cewek jadi-jadian kayak lo.”
“ Gue cewek Yoyo… aseli cewek tau!!!” serobotku cepat dan cukup keras.
“ HAHAHA…”
“ Ketawa aja sepuas lo, sebelum ketawa dilarang sama pemerintah.”
“ HEHEHE.”
“ Eh, Yo… mumpung gak ada Yogi, lo cerita dong soal cewek inceran lo itu. Masa iya kita sahabatan udah 3 tahun gue nggak tahu siapa cewek itu.”
“ Ngapain… nggak penting juga…”
“ Nggak penting gimana? Bukannya lo udah ngincer dia dari semester 1, kan…”
“ Iya…”
“ Ih… mainnya rahasiaan. Pelit amat seh jadi orang. Lo nggak tahu kalo orang pelit itu kuburannya sempit!”
“ Tahu, makanya sekarang gue lagi nabung. Ntar duitnya bisa gue pake buat ngontrak rumah di kuburan.”
“ Sarappppp…”
Dari semester pertama, Rio sudah cerita bahwa dia menyukai seseorang. Tapi sampai sekarang, kami berdua sama sekali tidak tahu siapa sosok misterius tersebut. Dia begitu rapat menyimpan rahasianya yang satu ini.
Seminggu kemudian…
“ Tumben jam segini udah keluar kelas…” kataku pada Yogi saat tiba-tiba dia muncul di kantin. Padahal, jam-jam segini adalah jam sibuk buat Yogi.
“ Hari ini dosen nggak masuk, jadi cuma tugas aja.”
“ Ooooo…”
“ La, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu,”
“ Sesuatu? Apa? Soal cewek?” tebakku asal.
“ Soal kamu.”
“ Hah!”
“ Aku gak tau, aku bingung gimana ngomongnya…”
“ Ya ngomong aja. Emang ada apaan sih…”
“ Sejak aku lihat kamu pertama kali di kantor administrasi, aku udah tertarik sama kamu. Aku gak tahu, tiap dekat kamu aku nyaman. Ada rasa yang berbeda saat aku bersama kamu.”
“ Bentar… lo lagi ngapalin teks drama kampus atau ini salah satu kalimat dalam teks puisi yang lagi lo apalin? Hah?” kataku asal karena aneh saat mendengar Yogi berbicara seperti itu.
“ Aku serius… Aku suka sama kamu.”
Sesaat seluruh aliran darahku berhenti saat mendengar pengakuan Yogi.
“ Aku gak peduli apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini. Tapi aku jujur. Ini bener-bener tulus dari hatiku.”
“…”
“ La… kamu denger aku, kan?”
“…”
“ La!”
“ Eh, i… iya gue denger, kok…”
Pengakuan yang begitu mengejutkan keluar dari mulut seorang Yogi yang notabene adalah seorang sahabat yang ku anggap sebagai abang sendiri. Tentu saja aku tidak langsung menjawabnya. Aku masih terkejut. Aku bingung harus bagaimana. Marahh kah? Senang kah? Atau bagaimana, harus bagaimana aku?
Keesokan harinya, karena merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri aku memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Rio sekaligus meminta pendapatnya. Kebetulan sekali, hari itu Rio juga ingin bertemu karena ingin membicarakan sesuatu padaku. Kamipun sepakat akan bertemu malam harinya di warung nasi goreng Mang Ayub yang ada di dekat kos kami.
Pukul 8 tepat, aku segera bergegas ke tempat Mang Ayub dimana Rio sudah tiba duluan.
“ Tumben tepat waktu pak dokter…” godaku pada Rio.
“ Calon dokter…”
“ Iya… ntar akhirnya juga jadi dokter, kan…”
“ Iya… dan lo jadi nyonya dokternya.”
“ Nggak ah… jadi nyonya dokter ribet. Apalagi dokternya sarap kayak lo gini… ogah!” celotehku santai karena menganggap Rio tidak serius dengan ucapannya.
“ Tapi gue serius, La…”
“…”
“ Bukannya lo pernah nanyain siapa cewek inceran gue dari semester pertama sampai sekarang itu siapa? Lo tau kenapa gue nggak bisa ngasih tau ke lo?”
“ Kenapa? Karena cewek itu buronan polisi ya?”
“ Karena cewek itu lo. Cewek inceran gue itu lo, La…”
“…”
“ Gue suka sama lo…”
Rasanya malam itu kayak ada petir yang menyambar keras tepat di atas kepalaku. Bagaimana mungkin dua orang sahabat menyatakan perasaannya padaku di waktu yang hampir bersamaan. Bingung harus mengatakan apa, sama seperti Yogi yang hanya kudiamkan tanpa mengatakan sepatah katapun Rio juga aku perlakukan hal yang sama. Aku tak tau apa yang sedang terjadi.
Keesokan harinya, aku mengumpulkan Yogi dan Rio di taman depan kantor administrasi tempat pertama kali kami bertiga bertemu.
“ Gue nggak tau apa yang sedang kalian rencanain. Tapi jujur Gue kecewa. Kenapa kalian harus nutupin perasaan kalian. Kenapa kalian nggak ngomong dari awal kalau kalian suka sama gue. Karena, kalo gue tau kalian suka sama gue, gue nggak perlu repot-repot buat sahabatan sama kalian.”
“ La…” panggil Yogi dan Rio bersamaan.
“ Gue gak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara hal ini. Dan gue juga nggak peduli walaupun kalian ngomong beratus-ratus kali kalo kalian suka sama gue. Gue tetap pada keputusan gue.”
“…” saat itu mereka hanya terdiam menunggu kalimat apa yang akan kuucapkan selanjutnya.
“ Gue udah punya tunangan… Dan setelah Gue lulus, gue bakal nikah sama dia. Kita udah pacaran sejak SMA.” jelasku tegas tapi pelan.
Jelas pengakuanku tersebut mengagetkan mereka berdua.
“ Sorry kalo selama ini Gue nggak ngomong ke kalian soal ini. Dulu gue udah sempat cerita soal ini kan… Tapi kalian nganggep ini cuma lelucon.”
“ Lola…” panggil Yogi pelan.
“ Gue hargai keberanian dan kejujuran kalian soal perasaan kalian masing-masing ke Gue. Tapi, sorry Gue gak bisa…”
Mereka hanya terdiam membisu tak menjawab apa-apa. Aku tau ini begitu mengagetkan mereka. Aku juga tau, aku telah melukai hati dua orang sekaligus. Aku sadar aku telah mengecewakan mereka. Tapi memang itulah realita sebenarnya.
Akupun mendekat pada Rio dan Yogi. Menggenggam erat tangan mereka dengan senyum terbaik yang kumiliki. Sesaat Yogi melepaskan tanganku, menatap tajam mataku dan kemudian pergi meninggalkan kami berdua. Aku tau dia kecewa. Tapi dia harus terima kenyataan yang ada, kenyataan bahwa aku sudah bertunangan dan tidak mungkin menerima cintanya.
Melihat Yogi yang berlalu, aku hanya bisa menahan air mata.
“ Kita udah kayak cerita di drama-drama Korea belom?” celetuk Rio yang membuatku tersenyum simpul karena tak bisa menahan air mata.
Rio segera menarikku ke dalam pelukannya. Membelai lembut rambut panjangku. Melihat apa yang dilakukan Rio, aku semakin tak bisa menahan rasa bersalahku pada mereka berdua.
“ Lo punya hak buat nglakuin hal ini. Lo gak salah. Hanya saja… mungkin ini semua terlalu cepat buat Yogi.” ucapnya pelan. Kaget mendengar seorang Rio bisa mengatakan hal seperti itu membuatku tangisku semakin menjadi.
“…”
“ Dengan begini, kita bisa jadi sahabat yang paling solid di kampus ini… bahkan di dunia ini… iya kan?” sesaat kalimat Rio membuatku tenang. Membuatku percaya bahwa semua akan kembali seperti semula.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala pelan. Aku tahu Rio juga menahan rasa sakit dan kecewanya padaku. Tapi dia berusaha menutupinya dariku karena dia nggak mau terlihat lemah di depanku, di depan cewek yang dicintainya. Dan aku menghargai dan menghormati apapun keputusan peradilan mereka berdua padaku.
Hal ini bukanlah akhir dari persahabatan kami. Karena ini adalah awal dari segalanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar