RSS

tell the world that you`re ...

tell the world that you`re ...
a strong person. talk louder, feel deeper. yes, you can!!

dia...


Pertama kali melihatnya di tengah keramaian bazar, mata Boni seperti berhenti berkedip. Dan jantungnya serasa berhenti berdetak sejenak menikmati keindahan yang telah diciptakan Tuhan dengan begitu sempurnanya. Seorang cewek yang melihat ke arahnya dengan tatapan mata dingin dengan rambut sebahu yang dibiarkan terurai, membuatnya terlihat begitu cantik. Cantik alami. Lama dia menatapnya, entah apa yang dia perhatikan. Hingga pada akhirnya dia membuang pandangannya dan kemudian berjalan menjauh. Dan Bonipun tersadar bahwa kini dia telah menghilang di telan kerumunan orang yang datang malam itu.
Sudah seminggu berlalu setelah bertemu dengan cewek tersebut, tapi wajahnya masih saja bergentayangan di memori otak Boni. Berusaha buat membuang memori tersebut, tapi justru malah timbul rasa penasaran. Ingin tahu siapa dia dan kenapa dia bisa menatapnya sampai seperti itu.
"Eh, Boni... Punya kerjaan baru Lo?" Vino sahabat karib Boni yang datang mengagetkan. Membuyarkan lamunannya tentang cewek itu. Sungguh sahabat yang tidak pengertian.
"Sialan Lo! Bikin semua kacau aja. Baru juga mulai, udah ganggu aja. kampret!" umpat Boni pada Ivan yang melihatnya dengan wajah tanpa dosa. Dan itu adalah salah satu hal yang paling Boni benci dari sahabatnya tersebut.
"Yaelah, habisnya tiap hari nglamun mulu... Mikirin apa sih? Masih penasaran sama cewek yang Lo temuin di bazar seminggu yang lalu?"
"Gitulah..." jawab Boni singkat.
"Denger ya, kalo jodoh juga nggak akan kemana... Inget tuh baik-baik."
Celoteh Ivan sambil berlalu. Ivan memang anak yang urakan, tapi apa yang dia ucapkan bagaikan sebuah tetesan air di tengah panasnya padang pasir. Dari mulutnya jugalah keluar kalimat-kalimat ajaib yang entah darimana didapatkannya. Setiap apa yang dia ucapkan selalu saja tepat sasaran.
"Eh, Boni! Mau langsung pulang Lo?" tanya Ivan saat kami baru saja keluar kelas setelah menyelesaikan jam kuliah mereka.
"Kenapa?"
"Sepupu Gue dari Jawa lagi main kesini. Udah seminggu yang lalu sih datengnya... Hari ini Gue disuruh nemenin buat jalan-jalan. Ikut yuk!"
"Ngapain... Emang Gue tour guide apa? Kagak ah. Males. Mau tidur aja di rumah."
"Ayo dong! Lo yang sering kelayapan tiap hari pasti tahu tempat-tempat kece kan? Gue beliin apa yang Lo mau deh ntar... Gue kabulin apa yang Lo mau dari Gue deh... Pliisssss..."
Melihat tampang Ivan yang sudah memasang wajah melasnya, tentu aja Boni nggak tega dan akhirnya ikut saja dengannya menemui sepupunya yang datang dari Jawa itu.
"Kita ketemunya disini?" tanya Boni setelah mereka sampai di depan sebuah losmen sederhana.
"Dia nginepnya disini. Makanya nyokap sekalian nyuruh doi buat pindah ke rumah Gue. Jadi kan Lo bisa bantu-bantu angkat kopernya sekalian.Hahahaha..."
"Sialan."
Akhirnya firasat buruk Bonipun memang benar terjadi. Pasti ada satu dua hal yang tidak mengenakan. Dan ternyata hal itu memang benar terjadi. Si Ivan sialan sengaja mengajak Boni ternyata bukan hanya sekedar untuk menemaninya berkeliling namun juga membantunya mengangkat koper. Sungguh keterlaluan sahabat Boni yang satu ini.
"Mana sih sepupu Lo itu? Lama banget ditungguin. Nggak sadar apa kalo lagi ditungguin." keluh Boni pada Ivan yang tengah santainya menghisap sebatang rokok sambil duduk di kursi depan mobil dengan pintu yang dibiarkan terbuka
"Tungguin aja. Masih mandi kali. Nggak sabaran banget sih Lo!" jawabnya sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
"Tuh dia." tunjuk Ivan yang kemudian berdiri keluar mobil dan mematikan rokoknya.
Sungguh mengejutkan. Entah ini hanya suatu kebetulan saja atau mungkin ini adalah takdir, entahlah. Itulah yang dipikirkan Boni saat melihat seoorang cewek yang keluar dari pintu losmen dengan menarik sebuah koper kecil sambil tak hentinya memamerkan senyum manisnya. Sungguh sangat cantik, itulah kalimat yang terus berputar-putar di kepala Boni.
"Dia? Dia sepupu Lo?" bisik Boni pada Ivan yang tengah sibuk melambaikan tangannya dengan terus memasang senyum lebar di wajahnya yang dengan sialnya juga, Ivan hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Boni.
"Hai, Mega! Maen kesini nggak ngomong-ngomong. Untung budhe nelpon Mama buat ngasih tau kalo kamu ada di sini." Ivan basa basi.
"Maaf, Van... Jadi ngrepotin. Padahal niatnya kesini mau maen bentar sekalian nyari tempat kuliah yang bagus trus pulang. Eh Mama kamu ngasih tahu kalo suruh nginep lebih lama aja. Ya udah..." terang cewek yang dipanggil Mega oleh Ivan.
"Ehm..." gumam Boni pelan.
"Oiya, kenalin nih temen aku Boni. Dan Bon, ini adik sepupu Gue Mega yang Gue ceritain." Ivan coba memperkenalkan setelah menyadari keberadaan Boni di sampingnya.
Boni yang langsung mengulurkan tangan segera saja dijabat kembali oleh Mega dengan ramah. Lembut tangan dan manis senyumnya membuat mata Boni tak ingin beranjak menatapnya. Sungguh pesona cewek ini berhasil menghipnotis otak Boni.
Setelah memutuskan akan pergi kemana yaitu pulang terlebih dahulu ke rumah Ivan, Ivanpun dengan sigap segera melajukan mobilnya di tengah keramaian kota. Mata Boni yang kadang mencuri pandang pada Mega yang sedang duduk di kursi belakang lewat kaca spion membuat Ivan yang menyadari hal itu penasaran dan ingin tahu.
Keesokan harinya saat Mega diajak Ivan untuk melihat-lihat kampusnya, karena siapa tahu Mega berminat untuk melajutkan pendidikannya di tempat yang sama dengannya dan Boni sahabatnya menimba ilmu tersebut.
"Bukannya kita pernah ketemu, ya? Di bazar seminggu yang lalu bukan?" Mega membuka pembicaraan saat Ivan meninggalkan mereka berdua karena masih harus menyelesaikan mata kuliahnya yang lain.
"Apa?! Kamu masih inget ternyata..." Boni yang mulai salah tingkah dengan kalimat Mega langsung saja menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal tersebut.
Megapun hanya menjawabnya dengan tersenyum dan kemudian melanjutkan membaca brosur kampus yang diperoleh dari Ivan.
”Boleh nanya...” akhirnya Boni memberanikan diri memulai pembicaraan hingga membuat Mega menghentikan membaca brosur yang ada di tangannya dan menoleh pelan ke arah Boni.
”Kenapa waktu itu, pas kita ketemu di bazar... Kenapa kamu bisa ngeliatin aku sampai lama gitu...” Boni melanjutkan kalimatnya setelah mendapatkan anggukan dari Mega tanda mengizinkan Boni untuk bertanya.
”Itu... Itu karena wajah kamu ngingetin aku sama almarhum kakakku. Mirip banget. Dia baru meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan.” jelas Mega pada Boni yang terus mendengar dan mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Mega dengan penuh konsentrasi.
Mendengar penjelasan Mega, jelas membuat Boni lega. Akhirnya semua teka-teki yang menyelimuti hatinya terungkap sudah. Mulai dari siapa cewek yang dia temui di bazar seminggu yang lalu hingga kenapa dia bisa menatap Boni sampai seperti itu terjawablah sudah.
Tiga hari bersama membuat Boni semakin tak bisa mengendalikan rasa sukanya pada Mega. Mega yang manis, sangat baik, sopan, lemah-lembut khas gadis Jawa telah membuat Boni ingin segera memilikinya sebagai pendamping hidup yang selama ini dia dambakan. Sayangnya tampang keren, penampilan oke, dompet tebel, dan kepopuleran Boni tidak bisa begitu saja meruntuhkan hati Mega. Banyak cewek di kampus yang ingin menjadi pacar Boni harus rela ditolak berkali-kali hingga harus menanggung malu. Tapi kenapa pesona Boni ini seperti tidak mempan untuk Mega, cewek yang begitu disukai Boni itu.
Setelah semalaman berpikir keras, akhirnya Boni memutuskan untuk mengutarakan rasa sukanya pada Mega hari ini juga. Karena Boni takut akan terlambat. Jadi, sebelum semuanya terlambat lebih baik Boni memilih untuk melangkah terlebih dahulu. Tapi, sebelum dia berangkat bertempur tentu saja dia harus berpamitan pada sahabat satu-satunya, Ivan. Karena bagaimanapun juga mereka sudah seperti saudara sendiri.
”Hei, brother!!!” sapa Ivan saat melihat Boni berjalan ke arahnya saat itu.
”Kemana sih, dicariin susah amat. Udah kayak kutu Lo!” canda Boni sesampainya di tempat Ivan duduk.
“Kampret... Kutu... Tumben hari ini keren banget. Ada apa nih...” akhirnya Ivan menanyakan hal tersebut. Jadi Boni tidak perlu repot-repot harus memulai darimana dia akan bercerita.
”Emm... Gue udah nemuin siapa cewek yang Gue temuin di bazar. Dan Gue berencana buat nembak dia hari ini juga, bro. Gue takut telat, ntar malah berabe lagi semuanya.” Boni mulai berbicara.
“Hah?! Masih kepikiran aja sama cewek misterius itu. Trus, anak mana tuh cewek...”
”Jangan sekarang. Ntar kalo udah sah Gue kenalin dia ke Lo. Lagian Lo juga kenal kok sama tuh cewek.”
”Gue? Gue kenal tuh cewek? Siapa? Anak kampus sini juga berarti... Tapi siapa sih bro?” Ivan yang mulai penasaran terus memaksa Boni untuk menceritakan semuanya.
”Oiya, Gue juga mau ngasih tau kalo minggu depan Gue bakalan tunangan.” Ivan yang coba memberitahu kabar baik ini pada sahabatnya tentu saja membuat Boni sangat terkejut.
”Tunangan? Tunangan sama siapa? Monyet?” goda Boni pada Ivan yang terlihat berseri-seri saat mengatakan hal tersebut.
”Sialan. Ya sama cewek lah. Bentar lagi dia kesini. Ntar Lo juga tahu siapa calon tunangan Gue itu. Mukenye nggak asing kok buat Lo.” tutup Ivan yang membuat Boni semakin penasaran. Karena pasalnya, Ivan tak pernah terlihat jalan berdua dengan seorang cewek. Bahkan Ivan juga tak pernah menceritakan sosok cewek yang sedang dekat dengannya akhir-akhir ini, meskipun mereka selalu menceritakan semuanya layaknya saudara. Jelas saja perubahan Ivan ini membuat Boni takut akan hal-hal buruk yang terjadi pada diri Ivan yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri itu.
Tak lama menunggu, kemudian datanglah seorang cewek yang berjalan ke arah Boni dan Ivan duduk dengan anggun dan senyum yang terus terpasang di wajahnya. Rambut sebahu yang dibiarkan terurai terus bergerak seiring dengan langkah kakinya. Sesekali membenahi rambutnya yang terkadang menutupi wajahnya karena diterpa angin. Mega. Mega yang begitu mempesona kala itu membuat mereka berdua hanya diam mematung melihat salah satu keindahan dunia yang diciptakan Tuhan dengan begitu sempurnanya.
”Dia...” ungkap Boni dan Ivan pelan secara bersamaan. Membuat mereka saling menatap dengan muka serius.
”Van...” panggil Mega  pelan saat tiba di tempat Boni dan Ivan duduk bersama. Suara tersebut membuat tatapan mata kedua sahabat tersebut terlepas satu sama lain dan segera melihat ke arah suara tersebut. Melihat Mega yang sudah berdiri di depannya, Ivan segera berdiri di samping Mega dan merangkulnya mesra. Suatu pemandangan yang aneh di mata Boni untuk ukuran sebuah hubungan sepupu. Tapi Boni coba untuk memakluminya. Meski ada sedikit rasa cemburu dalam hatinya.
”My brother... Ini adalah cewek yang Gue ceritain tadi. Tunangan Gue. Mega.” Ivan membuka suara yang jelas membuat Boni kaget setengah mati. Bola mata Boni yang langsung melotot seperti ingin keluar dari tempatnya membuat Ivan merasa seperti telah membuat Boni terkejut setengah mati.
”Apa?!?! Mega tunangan Lo? Kalian sepupuan kan? Gue nggak ngerti. Dan kalo ini cuma jokes. Lo tau ini nggak lucu Van.” Boni akhirnya berani bersuara.
Ivan jelas terkejut dengan sikap Boni yang menurutnya sedikit berlebihan. Ivan yang memang sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Boni saat ini tentu saja dia akan berpikir demikian.
”Gua cabut dulu deh. Males Gue lama-lama disini.” Boni yang sudah tak bisa menahan amarahnya segera pergi begitu saja. Melihat sikap aneh sahabatnya tersebut, Ivan segera menyusul Boni.
”Lo kenapa sih, Bon?? Kok Lo gini.”
”Gue kayak gini?? Kayak apa menurut Lo? Sahabat yang udah Gue anggep kayak saudara sendiri nipu Gue!! Nusuk Gue dari belakang!! Anjing Lo!!! Bangsat!!! Gila ya... Bilang sepupu, trus sekarang calon tunangan?? Apaan maksudnya??? Bercanda??? Bercanda Lo keterlaluan, nyet!!! Kampret!!! Kalo bukan temen udah Gue hajar Lo.” emosi Boni yang akhirnya meledak membuat Ivan bingung harus mulai darimana.
”Sori... Gue juga baru tahu hal ini semalem. Ternyata nyokapnya Mega itu bukan kakak kandung nyokap Gue. Tapi mereka sahabatan dari dulu. Dan orang tua Mega nitipin dia ke orang tua Gue karena janji mereka pas sekolah dulu. Jadi, jangan salahin Gue!! Kalo mau salahin, salahin nyokap Gue!!! Denger Lo njing??” teriak Ivan tak kalah kerasnya.
”Hoh... Jadi sekarang Lo udah berani manggil Gue anjing??? Tai Lo!!!” umpat Boni yang sudah tak bisa menahan emosinya.
”Woi!!” teriak Ivan tak kalah kerasnya.
”Apa? Anjing Lo emang...”
”Kenapa Lo berlebihan gini sih...”
“Berlebihan?? Anjing... Lo tau, cewek yang Gue temuin di bazar? Lo tau cewek yang selama ini buat Gue nggak bisa tidur nggak enak makan? Lo tau siapa cewek yang Gue sukai itu? Dan apa Lo tau siapa cewek yang mau Gue tembak hari ini? Apa Lo tau itu?? Anjing...”
“Siapa? Siapa maksud Lo?”
“Dia!! Mega!!! Babi Lo!!! Bangsaatttt!!! Anjing Lo emang!!!” teriak Boni sambil menunjuk keras ke arah Mega yang sedari tadi sudah berdiri di depan kedua sahabat yang sedang kalap emosinya tersebut dengan perasaan tak menentu dan serba salah.
“Bon... Gue, Gue nggak tau kalo Mega yang Lo maksud... Gue...” Ivan yang mulai mengerti maksud amarah Boni tentu saja merasa sangat bersalah. Wajahnya yang terlihat ling-lung membuat Boni tersadar akan sikapnya.
“Tai... Gini bos. Gue nggak berhak sebenernya marah gini sama Lo. Gue tetep temen Lo. Dan Lo, Lo tetep jadi sahabat Gue. Sori Gue udah kasar.”
“Bon...” panggil Ivan yang membuat Boni menyadari sikapnya yang berlebihan pada Ivan sahabatnya.
“Gue mau tenangin diri Gue dulu, Van... Gue cabut dulu.”
Boni yang setelah merangkul Ivan segera berjalan menjauhi Ivan yang tengah bingung dengan apa yang sudah dia perbuat pada sahabatnya, Boni. Karena seharusnya dia bisa lebih mengontrol emosinya.
“Dia... cewek yang Gue suka ternyata adalah calon tunangan sahabat Gue sendiri. Mega.”

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 it`s my story.... All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates