Tak
sengaja bertemu dengannya adalah suatu anugerah yang membawa pelajaran yang
sangat berharga sekali. Kenapa? Simple, rasa suka maupun sakit yang pernah dia
berikan membuatku sadar bahwa sebenarnya dunia ini begitu lebar. Bohong kalo
ada yang bilang kalo dunia cuma selebar daun kelor. Kalo memang dunia lebarnya
cuma sebesar/ seluas daun kelor, si Columbus nggak perlu lagi tuh keliling
dunia hingga pada akhirnya nemuin teori bahwa dunia itu bulat.
Kembali
ke cerita… Pertama ketemu, udah tertarik. Dia yang lucu dan apa adanya itu
membuatnya tampak berbeda dengan yang lain. Ibarat sebuah berlian di antara
batu apung biasa. Terdengar berlebihan tapi itu yang kurasakan saat itu. Ingin
mengenalnya lebih jauh. Tapi diri ini nggak berani. Ingin tertawa bareng dia,
tapi diri ini malu. Ingin menghabiskan waktu bersama dia, tapi diri ini bingung
untuk memulainya. Hingga pada akhirnya dia datang dan memperkenalkan diri
dengan begitu ramah dan… ya seperti dia yang apa adanya.
Menjalani
hari demi hari bareng dia tuh rasanya nggak kerasa kalo matahari malam udah
bersinar. Menyenangkan. Hanya itu yang aku rasakan saat berada di dekatnya. Tiap
hari bareng dia udah kayak terapi perut mulu. Ketawa nggak ada habisnya. Ada
aja tuh omongannya yang simple tapi bisa buat aku ketawa atau setidaknya
tersenyum simpul aja.
Awalnya
semua berjalan baik-baik saja. Dia yang terus memperlakukanku dengan baik dan
manis membuatku merasa nyaman saat berada di dekatnya. Tapi semua terasa
berubah saat dia mulai menjaga jarak denganku. Awalnya aku berpikir positif
saja, tapi tidak saat kutahu bahwa ternyata dia sudah punya pacar. Hari itu
nggak akan pernah aku lupain. Sakit. Sangat sakit. Lalu selama ini aku dianggap
apa? Untuk apa memberikan harapan-harapan yang indah jika pada akhirnya hanya
dijatuhkan dari puncak Mount Everest. Itu tinggi, dan jika jatuh pasti akan
sangat sakit sekali. Tanpa dosa, dia kembali datang padaku dengan segala cerita
yang dia bawa dengan pacarnya. Iyu nyesek! Tapi, hati ini memaafkan dia tanpa
pikir panjang. Tangan ini terbuka sangat lebar menyambut dia yang saat itu
diputusin pacarnya.
Aku
yang selalu berada di dekatnya, saat dia merasa di puncak maupun saat dia
merasa terpuruk sekali. Saat dia jatuh, hanya aku yang berani mendekat dan rela
meminjamkan pundak ini untuknya berkeluh kesah. Tapi semua itu tidak ada
artinya lagi kini. Tawa, tangis, ledekan-ledekan gokil, begadang bareng, ngobrol
dari isya` sampai subuh dari mulai hal kecil sampai hal besarpun kita jabanin.
Tanpa lelah dan tanpa keluhan. Janji saling setia selalu bersama, ikrar selalu
peduli dan selalu ingat satu sama lain hanya membuat mata ini tak bisa menahan
air mata setiap mengingatnya.
Berulang
kali dia bohongin aku. Tapi berulang kali pula aku maafin dia. Selalu begitu
hingga berjalan selama satu setengah tahun. Tentunya itu bukan waktu yang
sebentar. Butuh hati untuk saling peduli, menjaga, dan menganggap satu sama
lain ada. Suka senyum sendiri kalo inget semua yang manis. Suka pengen nangis
kalo inget yang pahit. Sekarang dia udah benar-benar menjauh. Pengen lupa, tapi
nggak bisa. Sayang, waktu nggak bisa diputar. Andai waktu bisa diputar. Aku
nggak akan minta agar tidak dipertemukan kamu, tapi aku akan meminta untuk
kembali di saat bahagia dan berhenti di sana. Mungkin itu akan jauh lebih baik.
Tapi tidak. Tidak akan aku minta hal itu, karena aku bisa melangkah jauh ke
depan jauh ke depan tanpa dia. Kenapa tidak? Kalo Amstrong bisa nancepin
bendera ke bulan, berarti aku juga harus bisa keep move on without him.
I
can. I can do that because I`m a tough girl. Bukan aku yang pernah bertemu dan
menghabiskan waktu bersamanya. Tapi aku adalah aku. Aku yang kuat dan tegar.
Aku yang selalu tersenyum menghadapi semuanya. Ya, aku! J







2 komentar:
bukan perpisahan yang harus ditangisi tapi pertemuan yang harus disesali
cerita romantis ternyata endingnya dramatis
seorang@regenboog pernah jatoh cintrong juga yak??? #asik
semua orang pernah meerasakan hal ini kayaknya....
Posting Komentar